Kaidah:
7-38-55
Tiba-tiba handphone
saya berdering saat kami sedang menikmati suasana kebersamaan. Biasanya saya
tidak pernah mengangkat telpon dari nomor hp yang tidak dikenal, namun pada
saat itu entah mengapa lisan saya tiba-tiba minta izin kepada suami untuk
mengangkat telpon (pasti Allah yang
menggerakkan).
I
|
:
|
Istri
|
S
|
:
|
Suami
|
I
|
:
|
Beb, ini ada telpon, boleh aku angkat? Siapa
tahu penting
|
S
|
:
|
Iya beb, gapapa, angkat aza
|
----------------------------------------------------------------------------------------------
L
|
:
|
Lia
|
P
|
:
|
Penelepon
|
P
|
:
|
Betul ini dengan Ibu Lia Apriliani
|
L
|
:
|
Iya betul, ada yang bisa saya bantu?
|
P
|
:
|
Mohon maaf bu, saya ganggu aktivitas ibu. Saya
hanya minta tolong sampaikan kepada Abdullah untuk segera menyelesaikan
kewajibannya. Saya mencoba menghubungi beliau namun sulit.
|
L
|
:
|
Baik, akan saya sampaikan. Ada lagi kah yang
ingin dibicarakan?
|
P
|
:
|
Tidak bu, sudah cukup. Terima kasih ya bu
|
L
|
:
|
Sama-sama
|
Telpon pun terputus
----------------------------------------------------------------------------------------------
S
|
:
|
Siapa beb?
|
I
|
:
|
Dari lembaga ******
|
S
|
:
|
Mau ada apa?
|
I
|
:
|
Itu beb, lanjutan telpon yang tempo lalu. Aku
fikir semuanya sudah clear,
ternyata belum
|
S
|
:
|
Ya udah, sekarang coba konfirmasi aza dulu ke
Abdullah
|
I
|
:
|
Iya beb.
|
Setelah
melakukan clear and clarify dengan
Abdullah melalui telpon, saya mencoba menjelaskan ulang kepada suami yang
sedang santai memainkan hp. Saya memilih kalimat-kalimat yang ringkas, mudah di
mengerti, menggunakan penekanan pada kalimat-kalimat tertentu, dan bahasa tubuh
yang mendukung.
I
|
:
|
Beb, aku udah telpon Abdullah (sambil meletakkan hp dan menatap mata
suami dengan lembut)
|
S
|
:
|
Lalu bagaimana? (suami pun akhirnya meletakkan hp)
|
I
|
:
|
Jadi gini beb, ternyata Abdullah melakukan ini
karena sedang terdesak kebutuhan. Ya, memang setiap orang pasti punya
kebutuhan, apalagi dalam rumah tangga, kadang ada aja keperluan yang
mendesak.
Berhenti sejenak untuk memberikan kesempatan kepada suami mencerna
pesan yang saya sampaikan.
Jadi bagaimana beb?
|
S
|
:
|
Kalau menurutku gini aza beb, kita keluarkan
saja alokasi dana zakat kita
Bagaimana?
|
I
|
:
|
Beneran beb?
|
S
|
:
|
Iya, gapapa. Mereka kan sedang membutuhkan
juga. Insya Allah kita masih ada rezeki yang lain. Kata nabi begini beb,
“Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan
melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang
menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia
dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah
akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba
Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”, itu sahih lho, hadist
riwayat muslim
|
I
|
:
|
Ehm………masya Allah beb, beb,,, mamacih ya…
Semoga kelak Allah menggantinya dengan yang
lebih baik
|
S
|
:
|
Aamiin
|
Memang
benar sekali, ketika suatu topik sensitive dilakukan pada saat waktu yang tepat
dan menggunakan kaidah 7-38-55 (verbal 7%, Iintonasi suara 38%, bahasa tubuh
55%) pesan dari komunikator kepada komunikan akan tepat sasaran dan diterima
dengan baik. Sesuatu yang disampaikan dengan hati akan di terima dengan hati
pula.
#hari5
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsay
#institutibuprofesional

Tidak ada komentar:
Posting Komentar