Keindahan cinta bukan karena seberapa besar dan banyak kau berikan sesuatu padanya melainkan seberapa kuat kalian bertahan dalam suka maupun duka

Rabu, 12 September 2018

Komunikasi Produktif Hari ke-7


Jelas Dalam Memberikan Pujian dan Kritikan

Alhamdulillah, pagi ini Zahra bangun dengan kondisi yang sehat, tidak kurang dari 1 apapun. Semalam dia terjaga hingga larut malam, sehingga berefek bangunnya siang. Saya sudah selesai masak dan akan siap-siap untuk berangkat ke kantor. Ketika saya membuka pintu kamar untuk mengambil pakaian kerja, terlihat kedua matanya sedang menatap jendela kamar dan segera berpaling menatap saya, secara refleks saya langsung menyapanya. 

I
:
Ibu
Z
:
Zahra

I
:
Assalamuálaikum bu hajah….(semoga kelak bisa menunaikan rukun islam yang ke-5. Aamiin)
Udah bangun?
Gimana tidurnya semalam sayang?
Nyenyak?
Mimpi apa?
Bilang apa sama Allah?
Alhamdulillah ya Allah, atas segala nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami ya Allah. Zahra bisa bobo ya sayang, bisa bangun, bisa membuka mata, bisa melihat, bisa mendengar, bisa gerakin kaki tangan, bisa menelan, dan masih banyak nikmat lain yang Engkau berikan ya Allah….Terima Kasih ya Allah…
(Saya sambil ikut tiduran bersama Zahra dan memandangi wajah mungilnya)
Z
:
Hanya terdiam memandangi wajah ibu dengan senyum yang begitu manis
I
:
Ibu mau siap-siap dulu ya sayang
(sambil kecup pipi dan dahi Zahra)
Z
:
Dia turun dari kasur dan pindah ke kamar belakang untuk bermain
Dia mengeluarkan lego dari tempatnya kemudian bermain

Di saat ayahnya sedang dinas keluar kota, Zahra sangat kooperatif. Ibunya siap-siap untuk berangkat, Zahra anteng dengan legonya. Setelah merasa puas dengan mainannya, dia belajar memasukkan kembali lego tersebut ke dalam tempatnya

Z
:
Memasukkan lego ke dalam wadah satu persatu (walaupun ga sampe beres)
I
:
Wah………….Zahra pinter bisa masukin lego ke tempatnya lagi…
Ayo sayang, lanjutkan sampai legonya masuk semua ya…
Z
:
Baru beberapa lego yang masuk dia langsung menuju pintu ruang tamu karena ada orang yang mengetuk pintu

“Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut”

#hari7
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsay
#institutibuprofesional

Selasa, 11 September 2018

Komunikasi Produktif Hari ke-6


Intonasi Suara dan Gunakan Suara Ramah

Kali ini saya berkesempatan untuk belajar mempraktikkan komunikasi produktif kepada anak. Alhamdulillah Allah memberikan pertumbuhan dan perkembangan pada Zahra dengan sangat baik. Saat ini, anak kami berusia 13 bulan. Banyak sekali tingakahnya yang lucu, menggemaskan, dan membuat diri semakin belajar sabar.

I
:
Ibu
Z
:
Zahra

I
:
Neng, ibu ke dapur dulu ya, mau bikin sarapan, neng main sendiri dulu ya..
Qadarullah, hari ini suami dinas ke luar kota dan yang “momong” sedang ada keperluan sehingga tidak masuk
Z
:
Diam, tak ada anggukan ataupun apa, dia sibuk memainkan mainannya

Saking asyiknya beraktivitas di dapur, saya tak melihat Zahra masuk ke dalam kamar. Setelah beberapa saat, saya baru sadar, ko ga ada suara ya. Lalu saya mengecek ke tempat bermainnya Zahra, di sana yang ada hanya mainan. Lalu saya mengecek ke kamar, dan ternyata….

I
:
Masya Allah……solehah…..
Lagi ngapain??? Itu baju yang udah di setrika ko di keluar-keluarin? Subhanallah…..
Saya berusaha mengendalikan diri
Beberapa saat menatap wajah polos Zahra yang ekspresinya begitu bahagia melihat bajunya ada di luar tempat semestinya.
Solehah sayang, yuk kita masukin bajunya ke lemari lagi ya…
Sini-sini ibu contohin ya…Neng lihat ya…
Z
:
Sepersekian detik dia memperhatikan lalu mencoba memasukkan bajunya
Namun belum berhasil dengan rapi
Alhasil, ibunya lah yang membereskan

Setelah makanan siap, saya dan Zahra makan. Awalnya semua sesuai harapan, Zahra duduk manis dan mau mengunyah, saya juga bisa makan dengan santai, namun beberapa menit kemudian, dia mulai ingin memainkan makanannya. Saya melarang dia dengan cara menarik piringnya, namun ternyata dia mengeluarkan jurus menolak untuk disuapi. 


I

Z
:

:
Oke, baiklah nak, jika itu yang kau mau, ini sendoknya, kamu boleh memainkannya.
Dengan cepat, Zahra mengambil sendok yang saya berikan

Dia menyendoki makanannya sendiri dan bergaya menyuapi saya. Saat dia menyuapi saya, saya pun berusaha memasukkan makanan ke mulutnya. Alhamdulillah berhasil, walupun endingnya lantai menjadi lengket karena banyak nasi yang berjatuhan. 


I

:

Gapapa sayang, nasimu berantakan, yang penting perutmu terisi
Lantai kotor biar nanti ibu yang membersihkannya lagi

Beres makan, saya memberinya minum dengan menggunakan gelas. Saat ini, dia sedang berada dalam fase ingin memegang gelasnya sendiri.
I
:
Neng, minumnya pelan-pelan ya…
Z
:
Dia berusaha minum sendiri
Baju yang baru di ganti, akhirnya basah juga…
I
:
Ya Allah….solehah…bajunya basah…
Bajunya ganti lagi ya sayang….
Z
:
Ekspresi bahagia karena berhasil minum sendiri walaupun belum sempurna

Setelah semua beres, dia tiba-tiba menyodorkan saya sepatu.

I
:
Apa sayang???
Mau dipakein sepatunya???
Neng mau ke mana???
Z
:
Dia hanya duduk dan menyerahkan kakinya untuk dipakaikan sepatu
I
:
Sini ibu pakein ya,,, pake yang kanan dulu ya sayang..
Saya memakaikan sepatu kanan
Nih…yang kanan udah beres, sekarang yang kiri ya…
Saya memakaikan sepatu kiri

Setelah itu, Zahra mengajak keluar untuk bermain.

Setiap anak memiliki gaya komunikasi yang unik, di usia anak kami, mungkin dia tidak memahami perkataan saya, tetapi dia tidak pernah salah meng-copy. Gaya komunikasi anak bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya, maka orangtualah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan  memaksa anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya. Orangtua pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau orangtua yang harus memahami anak.

 

#hari6
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsay
#institutibuprofesional


Senin, 10 September 2018

Komunikasi Produktif Hari ke-5


Kaidah: 7-38-55

Tiba-tiba handphone saya berdering saat kami sedang menikmati suasana kebersamaan. Biasanya saya tidak pernah mengangkat telpon dari nomor hp yang tidak dikenal, namun pada saat itu entah mengapa lisan saya tiba-tiba minta izin kepada suami untuk mengangkat telpon (pasti Allah yang menggerakkan).
I
:
Istri
S
:
Suami

I
:
Beb, ini ada telpon, boleh aku angkat? Siapa tahu penting
S
:
Iya beb, gapapa, angkat aza
----------------------------------------------------------------------------------------------
L
:
Lia
P
:
Penelepon

P
:
Betul ini dengan Ibu Lia Apriliani
L
:
Iya betul, ada yang bisa saya bantu?
P
:
Mohon maaf bu, saya ganggu aktivitas ibu. Saya hanya minta tolong sampaikan kepada Abdullah untuk segera menyelesaikan kewajibannya. Saya mencoba menghubungi beliau namun sulit.
L
:
Baik, akan saya sampaikan. Ada lagi kah yang ingin dibicarakan?
P
:
Tidak bu, sudah cukup. Terima kasih ya bu
L
:
Sama-sama
Telpon pun terputus
----------------------------------------------------------------------------------------------
S
:
Siapa beb?
I
:
Dari lembaga ******
S
:
Mau ada apa?
I
:
Itu beb, lanjutan telpon yang tempo lalu. Aku fikir semuanya sudah clear, ternyata belum
S
:
Ya udah, sekarang coba konfirmasi aza dulu ke Abdullah
I
:
Iya beb.

Setelah melakukan clear and clarify dengan Abdullah melalui telpon, saya mencoba menjelaskan ulang kepada suami yang sedang santai memainkan hp. Saya memilih kalimat-kalimat yang ringkas, mudah di mengerti, menggunakan penekanan pada kalimat-kalimat tertentu, dan bahasa tubuh yang mendukung.

I
:
Beb, aku udah telpon Abdullah (sambil meletakkan hp dan menatap mata suami dengan lembut)
S
:
Lalu bagaimana? (suami pun akhirnya meletakkan hp)



I
:
Jadi gini beb, ternyata Abdullah melakukan ini karena sedang terdesak kebutuhan. Ya, memang setiap orang pasti punya kebutuhan, apalagi dalam rumah tangga, kadang ada aja keperluan yang mendesak.
Berhenti sejenak untuk memberikan kesempatan kepada suami mencerna pesan yang saya sampaikan.

Jadi bagaimana beb?
S
:
Kalau menurutku gini aza beb, kita keluarkan saja alokasi dana zakat kita
Bagaimana?
I
:
Beneran beb?
S
:
Iya, gapapa. Mereka kan sedang membutuhkan juga. Insya Allah kita masih ada rezeki yang lain. Kata nabi begini beb, “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, pasti Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat. Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”, itu sahih lho, hadist riwayat muslim
I
:
Ehm………masya Allah beb, beb,,, mamacih ya…
Semoga kelak Allah menggantinya dengan yang lebih baik
S
:
Aamiin

Memang benar sekali, ketika suatu topik sensitive dilakukan pada saat waktu yang tepat dan menggunakan kaidah 7-38-55 (verbal 7%, Iintonasi suara 38%, bahasa tubuh 55%) pesan dari komunikator kepada komunikan akan tepat sasaran dan diterima dengan baik. Sesuatu yang disampaikan dengan hati akan di terima dengan hati pula.

#hari5
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsay
#institutibuprofesional


Topi AFM 2

Upluk coklat adalah upluk yang pertama kali kami beli saat car free day hari Minggu di Telaga Golf. Saat itu usia Dede Fayy masih 4 bulan. ...