Keindahan cinta bukan karena seberapa besar dan banyak kau berikan sesuatu padanya melainkan seberapa kuat kalian bertahan dalam suka maupun duka

Sabtu, 18 Maret 2017

Istriku, Super Girl di Dunia Nyata

Sabtu dan Minggu ini tak seperti biasanya. Aku dan kamu yang biasa di rumah menikmati akhir pekan, kini kamu harus kegiatan. Namun aku tak mempermasalahkan itu karena itu bagian dari tanggung jawab kita kepada Negara.
Istriku, tulisan ini aku persembahkan kepadamu sebagai kebanggaan dan rasa salutku padamu. Aku hanya ingin sedikit bercerita di kesendirian yang aku alami di rumah. Baru ditinggal sehari saja semua pekerjaan rumah seakan menumpuk. Biasanya kamu harus masak, nyuci baju, ngepel rumah dan sebagainya. Kini aku mengalaminya sendiri, aku mencoba meniru gaya mu, meniru perilakumu ketika di rumah, mengerjakan semua yang kamu kerjakan.
Namun istriku, baru sedikit saja semua terasa malas, semua terasa kurang. Entah karena tak biasa atau bagaimana, aku tak tahu. Aku yang sehari saja terasa begini, apalagi kamu sayang. Setiap hari seolah kamu tanpa capek mengerjakan semuanya. Kamu yang harus bekerja di kantor, pagi sudah menyiapkan sarapan, bahkan ketika Senin Kamis kamu harus bangun jam 3 pagi untuk menyiapkan makan sahurku. Pulang kerja kamu lakukan ini itu tanpa terasa capek. Di akhir pekan malah kamu dari bangun tidur sampai siang melakukan segalanya, mencuci, memasak, ngepel dan sebagainya. Itupun masih ditambah setiap hari kamu selalu memijat kaki dan tanganku, yang bagimu aku capek karena mengendarai motor. Jika aku tak menyuruhmu istirahat, kamu pun tak mau untuk merebahkan sejenak badanmu.
Istriku, di tengah kamu bekerja sesuai keinginanmu, kamu benar-benar tak mau sedikitpun untuk tak berbakti pada suamimu. Rasa capek kamu hilangkan, lelah kamu abaikan, aku tak tahu harus bagaimana lagi ku berucap terima kasih padamu. Karena bagiku, terima kasih saja tak akan cukup mengganti semua yang kamu baktikan untukku.
Jika di film-film atau sinetron, ada wanita super yang menolong sesama dan memberantas kejahatan. Namun di dunia nyata, kamulah satu-satunya wanita selain emakku di kampung yang menjadi wanita super bagiku. Menjadi kebanggaanku, menjadi orang spesial dalam hidupku. You are the best and you are the Super Girl my Sweety.

Selasa, 10 Januari 2017

Kelak, Anak Kita Mau Jadi Apa?



Percakapan sederhana yang aku bicarakan dengan istri sehabis sholat isya membuat semua seakan sudah nyata. Merencanakan kebutuhan anak dalam pendidikan, menyatukan pendapat untuk sang buah hati, semua seolah tergambar dalam balutan percakapan itu. Diawali dari bersandarnya istri ke pangkuanku, tiba-tiba ia mulai pertanyaannya. Menanyakan bagaimana pandanganku tentang akademik anak, apakah nanti akan kita tuntut atau bagaimana.

Dari situ aku teringat dulu sebelum menikah, aku ingin kelak anakku mendapatkan pendidikan terbaik. Hal itu pasti yang diharapkan dari semua orang tua di muka bumi ini. Namun semua itu tak akan pernah tercapai jika tak direncanakan dan diwujudkan.

Seketika itupun aku bercerita ke istriku, dia dengan sabarnya mendengarkan kata per kata, kalimat per kalimat yang aku kemukakan, kurang lebih seperti inilah yang aku katakan “Gini beb, aku orangnya tidak mau menuntut akademiknya, yang penting akhlaknya, karena itu nanti yang akan membawa manfaat buat orang lain, namun tak menutup kemungkinan dia juga harus pintar. Aku punya angan-angan, aku tak mau memasukkan anak kita ke sekolah negeri. Bukan berarti sekolah negeri itu nggak baik, coba deh dari pengalaman kita di sekolah negeri, kebanyakan yang dituntut adalah pintar, tetapi akhlak nya kurang diperhatikan, sekolah-sekolah berlomba-lomba menjadi sekolah dengan nilai UNAS tertinggi, berlomba-lomba yang paling banyak masuk PTN favorit, hanya otaknya yang dipikirkan, meskipun tak semuanya sekolah negeri begitu. Aku punya rencana, nanti ketika SD anak kita akan kita sekolahkan di sekolah swasta, sekolah islam, sekolah yang memberikan pembelajaran akhlak yang baik. Itu harapanku beb, kalau pintar kita bisa ngajarin, tapi kalau akhlak, kita kan sama-sama kerja, ya guru-guru di sekolah yang kita harapkan. Bahkan nanti ketika SMP aku ingin anak kita masuk pesantren. Karena aku tak ingin hanya memikirkan dunia saja, kita harus pikirkan akhirat, jadi aku tak menuntut anak kita pintar yang utama akhlaknya baik”.

Begitulah lebih kurangnya apa yang aku katakan ke istri. Respon istri sungguh membuatku tenang dan senang. Kami sehati, kami sama-sama ingin yang terbaik untuk anak kami. Kami tak ingin menuntutnya karena anak punya kelebihan di bidang lain, kami ingin membentuk karakter yang baik ke anak, dan semua itu  seolah tanpa ada perbedaan pendapat di antara kami, satu hati satu pikiran untuk sang buah hati tercinta.

Kawan-kawan pembaca, kami bukan berarti menjustifikasi bahwa sekolah negeri itu kurang baik, swasta pun belum tentu baik, kita punya cara masing-masing untuk mendidik anak, kita punya rencana masing-masing untuk pendidikan anak. Ada yang ingin masuk di sekolah negeri favorit, ada yang ingin masuk sekolah yang paling mahal, ada juga yang penting sekolah, bahkan ada juga yang tak mau anaknya sekolah. Semua itu adalah hak masing-masing, dan yang pasti semua orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik buat anaknya. Dan kami pun sadar akan hal itu, oleh karena itu, kami akan bersama dalam keluarga kecil ini, belajar untuk memberikan yang terbaik untuk buah hati kami kelak.

“Di dunia ini tak ada satupun universitas yang memberikan gelar profesor orang tua , oleh karena itu dibutuhkan waktu sepanjang hayat untuk terus belajar, belajar menjadi ayah dan ibu yang terbaik untuk buah hatinya” lidicinta, 2017

Selasa, 20 Desember 2016

Untukmu Calon Buah Hatiku

Aku tak tahu kamu sekarang lagi apa di alam sana. Apakah kamu masih bercakap-cakap dengan Tuhan? Atau lagi bergembira ria karena akan segera ditiupkan ke dalam rahim ibumu. Ahh...sekali lagi aku tak tahu kamu sedang apa. Ayah dan ibu siap menyambut kehadiranmu sayang, ayah dan ibu siap memelukmu, mendekapmu, dan membimbingmu dengan penuh cinta.
Apakah kamu disana tahu, kami begitu senang melihat perkembanganmu dalam rahim ibumu. Iya, kami memang benar-benar tak sabar segera bertemu denganmu. Tujuh bulan lagi sayang, tujuh bulan lagi kami akan mendengar tangisan pertamamu saat kamu melihat dunia ini, tangisan cintamu yang bisa membuat kami meneteskan air mata bahagia.
Dua bulan sudah berlalu, dan kami senang sekali sayang, kamu sehat dan berkembang dengan baik. Tak henti-hentinya ayah dan ibu bersyukur pada Allah Sang Pencipta. Sabtu lalu sesuai saran dokter, kami ingin mengetahui kondisimu, sehingga kami periksa ke RSIA Asyifa Depok.
“Beb, habis magrib kita langsung siap-siap ke Asyifa ya, takutnya antri banyak” kata ayah kepada ibumu di sela-sela makan sore hari, “Iya beb, entar habis magrib kita berangkat” kata ibumu
Sesuai rencana, kami pun segera berangkat ke Asyifa setelah magrib. Ayah dan ibu tak sabar ingin tahu bagaimana kondisimu saat ini.
“Mbak, mau periksa” kata ayah ke receptionist
“Periksa kandungan ya pak?” balasnya
“Iya mbak, antri berapa nomor?” sahut ayah
“Bapak nomor 12, bagaimana pak?” kata si receptionistnya
“lama juga ya mbak, emangnya mulai jam berapa kok udah segitu antriannya?” tanya ayah dengan heran
“kalau daftar mulai jam 5 pak, tapi antriannya dibuka setengah 7” jawabnya
Tahukah kamu anakku, waktu itu sebenarnya belum ada jam 7, dan kami dapat antrian nomor 12. Seperti biasa sebelum periksa ke dokter, ibumu cek tekanan darah dulu, dan yang membuat ayah khawatir waktu itu, ibumu tensinya rendah,90. Akhirnya kami makan dulu lalu sholat isya sebelum ibumu diperiksa.
Sayang, di tengah ketidaksabaran kami yang ingin melihat kondisimu, kami harus berusaha sabar menunggu antrian. Bahkan ibumu sampai ketiduran karena kelaman menunggu, dari jam 7 sampai sekitar jam setengah 10 malam.
Ketika disebut nama ibumu, entah kenapa ayah jadi agak gemetaran, ayah yang tadinya biasa-biasa saja, menjadi seolah ragu melangkah, takut hasilnya tak sesuai harapan. Itu yang ayah alami, apalagi ibumu yang beliaunya kamu tempati rahimnya.
“Alhamdulillah sehat bu” kata dr. Annisar kepada ibumu yang ayah dengarkan
Ayah tak tau apa-apa, karena waktu itu ayah ada di meja dokter, sedangkan ibumu berbaring tertutup gorden bersama sang dokter. Namun rasa bersyukur ayah semakin tinggi mendengar perkataan dokter itu sayang. Seandainya kamu disana juga mengetahuinya, ayah yakin, kamu juga pasti sangat senang. Tiba-tiba ayah dipersilahkan melihat kondisimu melalui USG.
“Ini jantungnya pak bu, ini calon kaki, calon kepala, calon tangan, alhamdulillah sehat” kata dokter yang membuat ayah ingin meneteskan air mata bahagia, “ini coba dengarkan suara jantungnya” sahut dokter yang mengeraskan suara jantungmu. Ayah dan ibu benar-benar bahagia sayang, bahagia melihatmu sehat dan tumbuh kembang dengan baik.
Sayang, melalui goresan kata ini, ayah dan ibu ingin mengabadikan kebahagiaan menyambut kehadiranmu. Kelak, saat kamu sudah bisa membaca dan tumbuh dewasa, kamu bisa merasakan kebahagiaan ayah dan ibu. Jikalau suatu saat ayah dan ibu punya salah, bacalah goresan kata ini, dan pahamilah, bahwa sejak dalam kandungan sampai selamanya kami akan selalu sayang padamu, kami selalu ingin memberikan yang terbaik untukmu, dan kami akan selalu berusaha membimbingmu untuk mendekat dan mencintai Tuhanmu, Tuhan kami, Tuhan kita semua, Allah Sang Maha Cinta.

Untukmu sayangku, buah hati kesayangan ayah dan ibu, We Love You
Jakarta, 20 Desember 2016

Senin, 28 November 2016

Ingin Ini, Ingin Itu, Nyidamkah???

Satu kata yang terbiasa kudengar saat teman atau orang lain sedang hamil, Nyidam. Iya kata itu tak asing bagi semua orang. Kata yang terbiasa dikaitkan dengan wanita hamil. Membuat suami harus rela mencari kemanapun, yang penting harus mendapatkan yang diinginkan istri. Jika tak dituruti, kata orang jaman dulu, nanti anaknya Ngiler. Ahh....entahlah, lucu sih, tapi benar atau nggak nya mitos itu i don’t know.

Keinginan untuk ini dan itu sekarang terjadi padamu istriku. Kejadian-kejadian yang menurutku aneh muncul di setiap kebersamaan kita. Tiba-tiba kamu ingin pempek palembang, ingin seblak bandung, ingin bubur kacang ijo, ingin makan daging dan lain sebagainya. Mungkin jika orang membaca tulisanku ini akan berpendapat biasa saja, toh wajar saja. Namun bagiku, hal-hal seperti ini sangat aneh. Kamu yang semenjak kita nikah, tak pernah makan bubur kacang ijo, tiba-tiba terbelesit keinginan memakannya. Kamu yang tak suka pedes, tiba-tiba bilang minta seblak bandung, yang pedes pula, sampai aku minta pedesnya sedang saja, takut kamu kena diare seperti biasanya kalau makan makanan pedas. Dan apa tanyamu di rumah ketika kubelikan itu, sungguh membuatku kaget
“beb, emang pedesnya segini ya?”
“whaaattt???” dalam hatiku bertanya-tanya penuh keheranan
“nggak sih beb, aku minta sedang, takut kamu diare kalau kepedesan hehe” kataku padamu

Dan saat itu senyuman khasmu kamu berikan kepadaku. Entahlah apa arti dari itu semua, namun aku senang beb, senang sekali. Kamu yang minta ini dan itu membuatku bersemangat, membuatku ingin memenuhinya.

Terlepas dari mitos para orang jaman dahulu, tingkah laku dan keinginanmu itu sungguh membuatku bahagia. Kamu yang tak biasa makan banyak, akhir-akhir ini makan begitu lahapnya. Masih ingat kan saat kita makan pempek palembang di jalan haji Nawi Raya? Disitu kamu pesan semua jenis pempek (campur) kapal selam satu, lonjor 2 dan apalah aku tak tahu namanya. Banyak banget menurutku, bahkan aku saja sampai tak bisa menghabiskan semuanya. Dan kamu dengan santainya menghabiskan semua jenis pempek. Luar biasa, itu yang ada di fikiranku saat itu, heran, syok dan benar-benar senang juga.

Masih banyak lagi hal-hal aneh akhir-akhir ini yang kamu alami, sampai aku pun tak bisa menyebutkan satu persatu. Namun di balik keanehan itu, sungguh kamu membuatku bangga. Bahkan sampai berharap, kedepannya bisa seperti ini terus. Kamu yang ingin ini dan itu tanpa ragu minta padaku. Terima kasih sayang, keinginanmu adalah sebuah berkah dari Allah untukku, dan perjuanganku untuk mendapatkan apa yang kamu mau membuat aku merasa menjadi suami yang ingin memperhatikan istri tercinta. If you want anything, just let me know, i will give you everything you want because i love you my sweety.

Jakarta, 28 November 2016

Senin, 21 November 2016

Istriku, Yuk Kita Bersiap Dipanggil Ayah dan Ibu

Alhamdulillah, kata yang kuucapkan di hari Rabu waktu subuh, saat melihat hasil testpack yang kita beli malam hari menunjukkan garis dua “positif”. Tangisan haru mengiringi pelukan mesra kita, aku tak kuasa, linangan air mata bahagia benar-benar terjadi. Bagiku inilah keajaiban, ini anugerah terbesar dari Allah untuk kita, istriku. Waktu itu antara percaya dan tak percaya, suasana yang banar-benar haru, seakan kita benar-benar berada di surga.

“Aku masih belum percaya beb, beneran nggak ya?” katamu yang seolah belum percaya hasilnya
“Kalau aku percaya saja, toh buat apa kita beli alatnya itu” jawabku dengan keyakinan “Atau nanti kita beli lagi alatnya, gimana?” sahutku
“iya beb, nanti beli lagi ya” katamu
“Terus, Sabtu kita priksa beb, ke dokter” kataku langsung, yang  ingin benar-benar meyakinkanmu
“dimana beb?” katamu
“Di depok aja, kan kita mau tinggal disana, biar sekalian dan dekat” sahutku
“ok lah, ke depok aja” jawabmu

Pagi hari di kantor, aku browsing-browsing internet, mencari dokter kandungan, rumah sakit terdekat dengan rumah, sampai tanya teman terkait pemeriksaan kandungan. Aku merasa benar-benar bahagia saat itu sayang, aku bahagia. Aku ingin memeberikan yang terbaik buat kamu dan buah hati kita kelak. Dan seperti semua orang bilang, aku pun ingin menjadi Ayah yang SIAGA “Siap Antar Jaga”. Ya aku ingin menyiapkan diriku menjadi ayah buat bayi kita, ingin mengantarmu mendapatkan pelayanan terbaik, dan pasti ingin menjaga kandungan di dalam rahimmu.

Hari Sabtu pun tiba, kita bersiap pergi ke RSIA Asyifa Medical Center Depok. Iya, kita pilih disana dengan pertimbangan dekat dari rumah kita, Rumah Sakit Islami, dokter perempuan dan lain sebagainya. Apakah kamu tahu istriku, saat sampai disana, mulai pendaftaran dan menunggu dipanggil, hatiku benar-benar bergetar. Aku tak tahu kenapa, seolah hatiku berdegup kencang, persis seperti saat aku mengungkapkan ingin menikahimu dulu, iya itu yang kualami istriku. Hingga panggilan namamu oleh asisten dokter, dan kita masuk ke dalam, hatiku masih bergetar. Lafadz taawud dan basmalah tak henti-hentinya keluar dari mulutku, berharap kamu benar-benar positif hamil.
“Gimana dok, positif?” tanyaku ke dokter, tak sabar ingin tahu saat ia memeriksamu dengan USG
“iya pak, ini pak coba dilihat ada di bagian sini” kata dokter menunjukkan gumpalan daging yang terdeteksi USG, yang membuatku benar-benar bersyukur atas nikmat Allah
“kuat nggak dok kandungannya?” tanyaku lagi
“nanti satu bulan lagi balik kesini agar bisa tahu lebih lanjut, dan lebih besar” jawab dokter
“oww iya dok, sudah berapa minggu usianya?” tanyaku yang ingin tahu
“kalau dilihat disini 4 minggu pak” jawab dokter sambil mengukur atau apalah yang dilakukan di alat tersebut
Setelah mendengarkan penjelasan dokter, kitapun keluar dengan penuh kebahagiaan dan penuh harapan agar kelak buah hati kita bisa terlahir ke dunia ini dengan selamat. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman)

Istriku, marilah kita bersiap menjadi Ayah dan Ibu. Saling menjaga diri, seperti yang aku bilang kemarin waktu belanja, “aku ingin kalau kamu capek bilang ya beb, jangan dipaksa, karena sekarang kamu harus memikirkan dua orang, dirimu dan anak kita, aku akan menjagamu dari luar, dan kamu menjaga dari dalam”.

Istriku, kerinduan akan tangisan bayi akan segera terpenuhi. Kehadiran sang buah hati akan segera menghiasi hari-hari kita. Mari kita sama-sama menjaga dan merawat sejak segumpal daging yang ada di rahimmu ada, mari kita selalu penuhi dia dengan ayat-ayat Cinta Allah Azza Wajalla, dan tak lupa selalu berikan yang terbaik untuknya. Bismillah atas ridho Allah, bersiaplah istriku, panggilan ayah dan ibu akan menggema setiap sudut rumah kita, amiinnn.

“Ya Allah, terima kasih Engkau anugerahkan kehamilan istriku ini. Segala puji milik-Mu Ya Allah, Engkau telah menjawab doa-doa kami. Terima kasih Engkau telah percaya kami untuk menerima amanah ini, insyaAllah kami akan berusaha menjaga baik-baik amanah ini, bantulah kami Ya Allah, bimbinglah kami, ridhoilah kami, agar kami kelak bisa menjadi Ayah dan Ibu yang senantiasa mendekatkan buah hati kami kepada-Mu”.


Jakarta, 21 November 2016

Kamis, 17 November 2016

Bubur Ayam di Minggu Pagi

Istriku,
Minggu pagi kemarin, kita berdua menikmati bubur ayam, ditemani rintih-rintih hujan yang menambah kemesraan.  Sebenarnya sangat jarang kita makan pagi pakai bubur ayam, entah karena tak suka atau hanya sekedar tak ingin saja. Namun, saat itu seolah menjadi hal wajib, bubur ayam adalah menu yang harus disantap di pagi hari. Iya, itu karena aku kurang enak badan. Kamu yang tak biasa makan bubur ayam akhirnya harus menemaniku makan itu.
“Mau makan apa beb?” katamu
“Terserah beb, nggak usah masak ya” jawabku
“Kan beb sakit, kita makan bubur ayam saja, gimana?” sahutmu
“nggak papa makan bubur ayam?” tanyaku seolah ingin memperjelas maksudmu
“iya beb, makan bubur ayam aja” katamu
“beli dimana?” tanyaku
“aku sih taunya di depan kantorku hehehe” jawabmu
“jauuhh, di sini aja, depan pesantren” aku yang yakin saat itu ada bubur ayam di depan pesantren
“emang ada disana?” tanyamu seolah ragu dengan perkataanku
“ada kok beb” jawabku yakin
“ya udah, ayo” sahutmu
Dan akhirnya kita berdua berjalan sepayung berdua di tengah gerimis yang menemani. Aku heran juga, aku kok sampai yakin di depan pesantren ada penjual bubur ayam. Itulah aku beb, yang seolah selalu meyakinkan meskipun aku tak tahu benar apa salah hehehe, and you know me my sweety.
Sesampai di depan pesantren, kamu agak tertawa, iya aku ingat itu. Mungkin kamu menertawakan keyakinanku yang salah mengenai penjual bubur ayam. Ahhh...entahlah namun saat itu kita bahagia dan terus saja berjalan di tengah rintih-rintih hujan. Terus melaju mencari penjual bubur ayam.
“Itu penjual bubur ayam beb” kataku menunjuk penjual  bubur ayam di sebelah timur pesantren
“Oww iya beb, kita kesana gimana?” tanyamu
“ayo dicoba” kataku
Namun saat itu tak ada sate ati ampela atau usus disana. Kamu tahu jika tanpa itu kurang lengkap dan aku tak suka.
“jika makan bubur ayam tanpa sate itu tak lengkap” katamu tiba-tiba setalah kita tak jadi beli disana
“kata siapa itu?” tanyaku
“kata papa biant hehe” jawabmu
“kapan aku bilang beb?” tanyaku heran
“waktu itu, saat kita makan bubur ayam di depan kantor” jawabmu
“owww iya ya aku aja nggak ingat hehehe” sahutku
Kitapun segera melanjutkan perjalanan menuju penjual bubur ayam depan kantormu. Kamu yang mengira kita akan pulang dahulu mengambil motor baru kesana, namun aku bilang kita berjalan saja, dan akhirnya kamu mengatakan ini sebagai CFD kita.
Beb,
Bahagia sekali yang kurasakan saat itu. Kita berjalan sepayung berdua, melewati guyuran gerimis yang menambah suasana romantis. Diselingi cerita cerita kita hingga bercanda tawa, tak terasa kita sudah sampai di tempat penjual bubur ayam. Alhamdulillah saat itu si penjual tetap buka. Hal pertama yang kamu tanyakan ke penjual itu pastinya sate. Jika ada kita beli, jika tak ada kita pergi, itu mungkin gambaran kejadiaan waktu itu.
Masih di bawah guyuran rintih-rintih hujan, kita berdua makan didepan kantor bank mandiri. Menikmati Minggu pagi bersama, berdua, dan penuh cinta. Bubur ayam yang telah lama tak kita nikmati, akhirnya menjadi menu spesial romantisme rumah tangga kita di Minggu pagi. Terima kasih my sweety, kau selalu hadirkan senyum kebahagiaan di rumah tangga ini, apapun keadaan dan kondisinya, kamu selalu membuat aku bahagia menjadi Pangeran Cinta.


Jakarta, 17 November 2016

Kamis, 03 November 2016

Surat Cinta Untuk Istriku

Istriku
Seringkali saat kita ngobrol berdua, kau bercerita, teman-temanmu banyak yang bilang, suamimu romantis, kamu beruntung memiliki dia dan lain sebagainya. Hal-hal baik yang mereka tonjolkan dariku untukmu. Bahkan ada juga temanmu yang memanggil sebutanku untukmu, my sweety. Ya karena banyak dari mereka yang membaca tulisan-tulisanku untukmu. Entah berapa kali kamu di “ceng” in mereka dan kau membalasnya dengan senyuman. Namun dari setiap ceritamu, aku lihat pancaran wajahmu begitu bahagia dan senyuman khas dirimu pun mengalir indah di bibirmu.
Jika dilihat dari sudut pandang teman-temanku, kata mereka aku juga beruntung memilikimu. Mereka bilang aku beruntung mendapat istri cantik, sholehah, baik dan sebagainya. Sulit mendapatkan istri seperti Lia, jaga selalu dia, kata teman-temanku itu.
Sayangku
Setiap teman kita mengatakan kita sama-sama beruntung dari sudut pandang yang berbeda. Bagaimanapun itu adalah pandangan mereka terhadapku maupun terhadapmu. Apakah kita sama-sama beruntung? Entahlah, namun aku tak memandang hanya keberuntungan saja. Lebih dari itu aku bangga saat ini aku bisa menjadi suamimu, aku bangga aku bisa mencintaimu, dan aku bangga kita menjalani kehidupan rumah tangga ini. Rasa bangga ku inilah yang bisa menjadi energi dasyat untuk menuliskan kisah kita, menuliskan kata-kata cinta, dan rasa bangga inilah yang membuat aku ingin berbagi kebahagiaan kepada sesama. Istriku, aku bangga memilikimu.

Suamimu

Topi AFM 2

Upluk coklat adalah upluk yang pertama kali kami beli saat car free day hari Minggu di Telaga Golf. Saat itu usia Dede Fayy masih 4 bulan. ...