Keindahan cinta bukan karena seberapa besar dan banyak kau berikan sesuatu padanya melainkan seberapa kuat kalian bertahan dalam suka maupun duka

Senin, 28 November 2016

Ingin Ini, Ingin Itu, Nyidamkah???

Satu kata yang terbiasa kudengar saat teman atau orang lain sedang hamil, Nyidam. Iya kata itu tak asing bagi semua orang. Kata yang terbiasa dikaitkan dengan wanita hamil. Membuat suami harus rela mencari kemanapun, yang penting harus mendapatkan yang diinginkan istri. Jika tak dituruti, kata orang jaman dulu, nanti anaknya Ngiler. Ahh....entahlah, lucu sih, tapi benar atau nggak nya mitos itu i don’t know.

Keinginan untuk ini dan itu sekarang terjadi padamu istriku. Kejadian-kejadian yang menurutku aneh muncul di setiap kebersamaan kita. Tiba-tiba kamu ingin pempek palembang, ingin seblak bandung, ingin bubur kacang ijo, ingin makan daging dan lain sebagainya. Mungkin jika orang membaca tulisanku ini akan berpendapat biasa saja, toh wajar saja. Namun bagiku, hal-hal seperti ini sangat aneh. Kamu yang semenjak kita nikah, tak pernah makan bubur kacang ijo, tiba-tiba terbelesit keinginan memakannya. Kamu yang tak suka pedes, tiba-tiba bilang minta seblak bandung, yang pedes pula, sampai aku minta pedesnya sedang saja, takut kamu kena diare seperti biasanya kalau makan makanan pedas. Dan apa tanyamu di rumah ketika kubelikan itu, sungguh membuatku kaget
“beb, emang pedesnya segini ya?”
“whaaattt???” dalam hatiku bertanya-tanya penuh keheranan
“nggak sih beb, aku minta sedang, takut kamu diare kalau kepedesan hehe” kataku padamu

Dan saat itu senyuman khasmu kamu berikan kepadaku. Entahlah apa arti dari itu semua, namun aku senang beb, senang sekali. Kamu yang minta ini dan itu membuatku bersemangat, membuatku ingin memenuhinya.

Terlepas dari mitos para orang jaman dahulu, tingkah laku dan keinginanmu itu sungguh membuatku bahagia. Kamu yang tak biasa makan banyak, akhir-akhir ini makan begitu lahapnya. Masih ingat kan saat kita makan pempek palembang di jalan haji Nawi Raya? Disitu kamu pesan semua jenis pempek (campur) kapal selam satu, lonjor 2 dan apalah aku tak tahu namanya. Banyak banget menurutku, bahkan aku saja sampai tak bisa menghabiskan semuanya. Dan kamu dengan santainya menghabiskan semua jenis pempek. Luar biasa, itu yang ada di fikiranku saat itu, heran, syok dan benar-benar senang juga.

Masih banyak lagi hal-hal aneh akhir-akhir ini yang kamu alami, sampai aku pun tak bisa menyebutkan satu persatu. Namun di balik keanehan itu, sungguh kamu membuatku bangga. Bahkan sampai berharap, kedepannya bisa seperti ini terus. Kamu yang ingin ini dan itu tanpa ragu minta padaku. Terima kasih sayang, keinginanmu adalah sebuah berkah dari Allah untukku, dan perjuanganku untuk mendapatkan apa yang kamu mau membuat aku merasa menjadi suami yang ingin memperhatikan istri tercinta. If you want anything, just let me know, i will give you everything you want because i love you my sweety.

Jakarta, 28 November 2016

Senin, 21 November 2016

Istriku, Yuk Kita Bersiap Dipanggil Ayah dan Ibu

Alhamdulillah, kata yang kuucapkan di hari Rabu waktu subuh, saat melihat hasil testpack yang kita beli malam hari menunjukkan garis dua “positif”. Tangisan haru mengiringi pelukan mesra kita, aku tak kuasa, linangan air mata bahagia benar-benar terjadi. Bagiku inilah keajaiban, ini anugerah terbesar dari Allah untuk kita, istriku. Waktu itu antara percaya dan tak percaya, suasana yang banar-benar haru, seakan kita benar-benar berada di surga.

“Aku masih belum percaya beb, beneran nggak ya?” katamu yang seolah belum percaya hasilnya
“Kalau aku percaya saja, toh buat apa kita beli alatnya itu” jawabku dengan keyakinan “Atau nanti kita beli lagi alatnya, gimana?” sahutku
“iya beb, nanti beli lagi ya” katamu
“Terus, Sabtu kita priksa beb, ke dokter” kataku langsung, yang  ingin benar-benar meyakinkanmu
“dimana beb?” katamu
“Di depok aja, kan kita mau tinggal disana, biar sekalian dan dekat” sahutku
“ok lah, ke depok aja” jawabmu

Pagi hari di kantor, aku browsing-browsing internet, mencari dokter kandungan, rumah sakit terdekat dengan rumah, sampai tanya teman terkait pemeriksaan kandungan. Aku merasa benar-benar bahagia saat itu sayang, aku bahagia. Aku ingin memeberikan yang terbaik buat kamu dan buah hati kita kelak. Dan seperti semua orang bilang, aku pun ingin menjadi Ayah yang SIAGA “Siap Antar Jaga”. Ya aku ingin menyiapkan diriku menjadi ayah buat bayi kita, ingin mengantarmu mendapatkan pelayanan terbaik, dan pasti ingin menjaga kandungan di dalam rahimmu.

Hari Sabtu pun tiba, kita bersiap pergi ke RSIA Asyifa Medical Center Depok. Iya, kita pilih disana dengan pertimbangan dekat dari rumah kita, Rumah Sakit Islami, dokter perempuan dan lain sebagainya. Apakah kamu tahu istriku, saat sampai disana, mulai pendaftaran dan menunggu dipanggil, hatiku benar-benar bergetar. Aku tak tahu kenapa, seolah hatiku berdegup kencang, persis seperti saat aku mengungkapkan ingin menikahimu dulu, iya itu yang kualami istriku. Hingga panggilan namamu oleh asisten dokter, dan kita masuk ke dalam, hatiku masih bergetar. Lafadz taawud dan basmalah tak henti-hentinya keluar dari mulutku, berharap kamu benar-benar positif hamil.
“Gimana dok, positif?” tanyaku ke dokter, tak sabar ingin tahu saat ia memeriksamu dengan USG
“iya pak, ini pak coba dilihat ada di bagian sini” kata dokter menunjukkan gumpalan daging yang terdeteksi USG, yang membuatku benar-benar bersyukur atas nikmat Allah
“kuat nggak dok kandungannya?” tanyaku lagi
“nanti satu bulan lagi balik kesini agar bisa tahu lebih lanjut, dan lebih besar” jawab dokter
“oww iya dok, sudah berapa minggu usianya?” tanyaku yang ingin tahu
“kalau dilihat disini 4 minggu pak” jawab dokter sambil mengukur atau apalah yang dilakukan di alat tersebut
Setelah mendengarkan penjelasan dokter, kitapun keluar dengan penuh kebahagiaan dan penuh harapan agar kelak buah hati kita bisa terlahir ke dunia ini dengan selamat. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman)

Istriku, marilah kita bersiap menjadi Ayah dan Ibu. Saling menjaga diri, seperti yang aku bilang kemarin waktu belanja, “aku ingin kalau kamu capek bilang ya beb, jangan dipaksa, karena sekarang kamu harus memikirkan dua orang, dirimu dan anak kita, aku akan menjagamu dari luar, dan kamu menjaga dari dalam”.

Istriku, kerinduan akan tangisan bayi akan segera terpenuhi. Kehadiran sang buah hati akan segera menghiasi hari-hari kita. Mari kita sama-sama menjaga dan merawat sejak segumpal daging yang ada di rahimmu ada, mari kita selalu penuhi dia dengan ayat-ayat Cinta Allah Azza Wajalla, dan tak lupa selalu berikan yang terbaik untuknya. Bismillah atas ridho Allah, bersiaplah istriku, panggilan ayah dan ibu akan menggema setiap sudut rumah kita, amiinnn.

“Ya Allah, terima kasih Engkau anugerahkan kehamilan istriku ini. Segala puji milik-Mu Ya Allah, Engkau telah menjawab doa-doa kami. Terima kasih Engkau telah percaya kami untuk menerima amanah ini, insyaAllah kami akan berusaha menjaga baik-baik amanah ini, bantulah kami Ya Allah, bimbinglah kami, ridhoilah kami, agar kami kelak bisa menjadi Ayah dan Ibu yang senantiasa mendekatkan buah hati kami kepada-Mu”.


Jakarta, 21 November 2016

Kamis, 17 November 2016

Bubur Ayam di Minggu Pagi

Istriku,
Minggu pagi kemarin, kita berdua menikmati bubur ayam, ditemani rintih-rintih hujan yang menambah kemesraan.  Sebenarnya sangat jarang kita makan pagi pakai bubur ayam, entah karena tak suka atau hanya sekedar tak ingin saja. Namun, saat itu seolah menjadi hal wajib, bubur ayam adalah menu yang harus disantap di pagi hari. Iya, itu karena aku kurang enak badan. Kamu yang tak biasa makan bubur ayam akhirnya harus menemaniku makan itu.
“Mau makan apa beb?” katamu
“Terserah beb, nggak usah masak ya” jawabku
“Kan beb sakit, kita makan bubur ayam saja, gimana?” sahutmu
“nggak papa makan bubur ayam?” tanyaku seolah ingin memperjelas maksudmu
“iya beb, makan bubur ayam aja” katamu
“beli dimana?” tanyaku
“aku sih taunya di depan kantorku hehehe” jawabmu
“jauuhh, di sini aja, depan pesantren” aku yang yakin saat itu ada bubur ayam di depan pesantren
“emang ada disana?” tanyamu seolah ragu dengan perkataanku
“ada kok beb” jawabku yakin
“ya udah, ayo” sahutmu
Dan akhirnya kita berdua berjalan sepayung berdua di tengah gerimis yang menemani. Aku heran juga, aku kok sampai yakin di depan pesantren ada penjual bubur ayam. Itulah aku beb, yang seolah selalu meyakinkan meskipun aku tak tahu benar apa salah hehehe, and you know me my sweety.
Sesampai di depan pesantren, kamu agak tertawa, iya aku ingat itu. Mungkin kamu menertawakan keyakinanku yang salah mengenai penjual bubur ayam. Ahhh...entahlah namun saat itu kita bahagia dan terus saja berjalan di tengah rintih-rintih hujan. Terus melaju mencari penjual bubur ayam.
“Itu penjual bubur ayam beb” kataku menunjuk penjual  bubur ayam di sebelah timur pesantren
“Oww iya beb, kita kesana gimana?” tanyamu
“ayo dicoba” kataku
Namun saat itu tak ada sate ati ampela atau usus disana. Kamu tahu jika tanpa itu kurang lengkap dan aku tak suka.
“jika makan bubur ayam tanpa sate itu tak lengkap” katamu tiba-tiba setalah kita tak jadi beli disana
“kata siapa itu?” tanyaku
“kata papa biant hehe” jawabmu
“kapan aku bilang beb?” tanyaku heran
“waktu itu, saat kita makan bubur ayam di depan kantor” jawabmu
“owww iya ya aku aja nggak ingat hehehe” sahutku
Kitapun segera melanjutkan perjalanan menuju penjual bubur ayam depan kantormu. Kamu yang mengira kita akan pulang dahulu mengambil motor baru kesana, namun aku bilang kita berjalan saja, dan akhirnya kamu mengatakan ini sebagai CFD kita.
Beb,
Bahagia sekali yang kurasakan saat itu. Kita berjalan sepayung berdua, melewati guyuran gerimis yang menambah suasana romantis. Diselingi cerita cerita kita hingga bercanda tawa, tak terasa kita sudah sampai di tempat penjual bubur ayam. Alhamdulillah saat itu si penjual tetap buka. Hal pertama yang kamu tanyakan ke penjual itu pastinya sate. Jika ada kita beli, jika tak ada kita pergi, itu mungkin gambaran kejadiaan waktu itu.
Masih di bawah guyuran rintih-rintih hujan, kita berdua makan didepan kantor bank mandiri. Menikmati Minggu pagi bersama, berdua, dan penuh cinta. Bubur ayam yang telah lama tak kita nikmati, akhirnya menjadi menu spesial romantisme rumah tangga kita di Minggu pagi. Terima kasih my sweety, kau selalu hadirkan senyum kebahagiaan di rumah tangga ini, apapun keadaan dan kondisinya, kamu selalu membuat aku bahagia menjadi Pangeran Cinta.


Jakarta, 17 November 2016

Kamis, 03 November 2016

Surat Cinta Untuk Istriku

Istriku
Seringkali saat kita ngobrol berdua, kau bercerita, teman-temanmu banyak yang bilang, suamimu romantis, kamu beruntung memiliki dia dan lain sebagainya. Hal-hal baik yang mereka tonjolkan dariku untukmu. Bahkan ada juga temanmu yang memanggil sebutanku untukmu, my sweety. Ya karena banyak dari mereka yang membaca tulisan-tulisanku untukmu. Entah berapa kali kamu di “ceng” in mereka dan kau membalasnya dengan senyuman. Namun dari setiap ceritamu, aku lihat pancaran wajahmu begitu bahagia dan senyuman khas dirimu pun mengalir indah di bibirmu.
Jika dilihat dari sudut pandang teman-temanku, kata mereka aku juga beruntung memilikimu. Mereka bilang aku beruntung mendapat istri cantik, sholehah, baik dan sebagainya. Sulit mendapatkan istri seperti Lia, jaga selalu dia, kata teman-temanku itu.
Sayangku
Setiap teman kita mengatakan kita sama-sama beruntung dari sudut pandang yang berbeda. Bagaimanapun itu adalah pandangan mereka terhadapku maupun terhadapmu. Apakah kita sama-sama beruntung? Entahlah, namun aku tak memandang hanya keberuntungan saja. Lebih dari itu aku bangga saat ini aku bisa menjadi suamimu, aku bangga aku bisa mencintaimu, dan aku bangga kita menjalani kehidupan rumah tangga ini. Rasa bangga ku inilah yang bisa menjadi energi dasyat untuk menuliskan kisah kita, menuliskan kata-kata cinta, dan rasa bangga inilah yang membuat aku ingin berbagi kebahagiaan kepada sesama. Istriku, aku bangga memilikimu.

Suamimu

Rabu, 26 Oktober 2016

Panggilan Kakak Adik dari Penjual Nasi Uduk

Cuaca pagi ini sangat cerah, menambah semangat ku untuk pergi kerja bersamamu. Hari ini untuk kesekian kali kita tak ingin makan di rumah, bukan karena bosan, namun karena ada hal yang mungkin membuat kita terheran, membuat penasaran ataupun hanya ingin makan bersama di luar.
Cerita dari Rani teman kantormu membuat aku tersenyum dan mungkin senang juga. Walaupun tak setiap hari, kita terbiasa kalau pagi makan di warung nasi uduk pinggir jalan menuju kantormu. Kamu ceritakan kepadaku tentang percakapan antara Rani dan Ibu penjual nasi uduk itu. Kurang lebih seperti inilah percakapan Rani dan Ibu Penjual nasi uduk yang kau ceritakan kepadaku.
“Mbak, temannya mbak itu sudah menikah ya?” kata ibu penjual nasi uduk
“Iya bu, Juli atau Agustus begitu” jawab rani
“Aku kira mereka kakak adik mbak” sahut ibu penjual nasi uduk
“Pasti ibu dah mengira mana kakaknya dan mana adiknya ya bu” canda Rani sambil tertawa
Begitulah beb, kira-kira percakapan antara Rani dan si Ibu penjual nasi uduk. Akupun seketika tertawa mendengar ceritamu itu. Entah darimana melihatnya, kita dianggap seperti saudara yang sering mampir ke warung kecilnya.
Aku berfikir apa benar ya omongan orang-orang kalau jodoh itu mirip. Sepintas aku teringat kisah Nabi Adam dan Siti Hawa. Iya benar, Ibu Hawa memang diciptakan dari tulang rusuk Adam. Logika sederhanaku kembali berimajinasi, kalau begitu berarti benar juga ya, karena Ibu Hawa diciptakan dari bagian tubuh Adam, sehinga miriplah antara pria dan wanita yang berjodoh.
Itu cerita mereka, kitapun juga punya cerita. Kamu yang telah djodohkan Allah untukku, apakah kamu bagian dari tulang rusukku? Ahhh entahlah, aku tak bisa berandai-andai, namun satu hal yang kuyakini, Kamu adalah wanita terbaik yang diciptakan Allah hanya untukku, untuk melengkapi kekurangananku dan untuk menyempurnakan bagiaan-bagianku yang tak ada. Itu kamu my sweety, Lia Apriliani.
Kembali ke cerita si Ibu penjual nasi uduk pinggir jalan menuju kantormu. Pagi ini kita coba makan lagi disana. Seperti biasa menuku yang kau tahu, nasi uduk pakai telur bulat dan tahu ditambah sambal. Begitupun kamu yang tak pernah berubah, mie bihun, oseng tempe dan telur dadar. Kita makan dengan lahapnya sambil bercerita dan tak lupa tetap diabadikan dengan foto selfi berdua. Begitulah cerita kita, cerita yang mungkin hanya sederhana. Namun bagiku, kesederhanaan inilah yang akan membuat kita bertahan dalam suka maupun duka. Jika sebagai cikal bakal cinta ada Adam dan Hawa, dalam dongeng ada Romeo dan Juliet, begitu juga ada kisah cinta antara Rama dan Shinta, namun saat ini di dunia nyata ada cerita tentang kita, Didik dan Lia.

Jakarta, 26 Oktober 2016
Quote of the day

“Kisah cinta yang sederhana akan membawa hidup kita lebih bermakna, penuh senyuman dan keharmonisan menjalani kebersamaan dengan pasangan, jalani kisah cintamu dengan sederhana dan biarkan orang lain yang menilainya” (lidicinta, 2016)

Selasa, 18 Oktober 2016

Nostalgia Cinta

Kamis malam di sudut pojok McD adalah kenangan yang tak akan pernah hilang dari ingatan. Sepasang sahabat dipertemukan Tuhannya dalam nuansa berbeda. Jika biasanya mereka bercengkrama dalam balutan tertawa, hari itu terasa hening penuh makna. Keseriusan cinta dalam balutan sahabat menjadi tranding topic malam itu. Kata demi kata terucap jelas tak seperti biasanya, kalimat-kalimat cinta selalu terucap setiap detiknya, frasa-frasa yang dibumbui mimik wajah serius menghiasi pertemuan mereka. Dua sahabat yang lama tak bertemu, dipersatukan lagi untuk menjadi sepasang suami istri.  Itulah kita istriku, aku dan kamu bertemu kembali waktu itu, setelah 5 bulan tak pernah saling bertatap muka.

Kini kita sudah berumah tangga, hal yang kita impikan waktu itu, di sudut pojok atas McD. Perjalanan demi perjalanan pun kita lalui bersama dalam pembelajaran berumah tangga ini. Kisah-kisah cinta kita goreskan dalam setiap perjalanannya.

Ketika Senin sore di KPPN tempat biasa aku kunjungi, aku pulang agak terlambat dari biasanya. Sehingga kamu ingin pulang dahulu dan seperti biasa memasakkan menu buka puasa buat kita. Namun tetiba aku punya angan-angan ingin bernostalgia di McD.

“Beb dimana?” kataku lewat telepon
“Ini di kantor beb, mau pulang” jawabmu yang agak jutek waktu itu
“Ini aku udah selesai, mau pulang, ooo iya beb, jangan masak ya!” kataku padamu
“Loh kenapa beb?” jawabmu mulai terheran
“Kita makan di luar aja gimana, kan pyan besok mau DL, entar ke McD sambil bernostalgia hahaha” sambungku
“hahahaha, ok deh papa biant, jadi aku nunggu di kantor aja ya hehe” katamu yang mulai berubah intonasi, yang menurutku sudah nggak jutek lagi
“ok deh sayang, aku pulang ya, i love you” kataku di akhir telepon sebelum selesai
“i love you too papa biant” sambungmu mengakhiri percakapan kita lewat telepon

Saat itupun aku segera meluncur, menjalankan sepeda motorku menuju kantormu. Menjemput kamu sang bidadariku. Di tengah perjalanan, aku teringat, kamu yang juga suka tempe mendoan daerah sekitar Santa. Saat itupun aku langsung berhenti disana membeli tempe mendoan buat buka puasa kita. Akhirnya tempe mendoan itulah yang menjadi menu kita waktu buka puasa.

“Aku merasakan kayak waktu puasa ramadhan beb” katamu ketika di kontrakan waktu buka puasa
“Kok bisa beb?” tanyaku terhean
“Iya waktu itu biasanya papa biant beli mendoan lalu kita buka puasa di kantor bersama teman-teman”jawabmu sambil mengingat kembali bulan ramadhan tahun ini
“iya ya beb, aku sering beli mendoan disana hehe” kataku

Seketika itu kita pun menikmati mendoan berdua sambil menunggu waktu, sebelum kita berdua ke McD. Waktu isya pun tiba, dan setelah sholat kita segera bergegas kesana. Disana kita makan ayam goreng berdua, menempati meja pojok atas, sambil bercerita, tentang di McD waktu itu, tentang kantormu, kantorku, dan tak lupa juga tentang kita.

Nostalgia ini bagaikan kita mencoba mengulang kembali masa-masa dimana kita mulai dekat lagi. Mulai menaburkan rasa cinta yang hanya kita dan Allah saja yang tahu bagaimana menggenapkannya. Semoga lewat puing-puing kenangan ini, kita semakin menambah rasa cinta, rasa cinta antara dua sahabat yang sedang belajar berumah tangga. Cinta antara aku dan kamu dalam balutan Allah Azza Wajalla.

Jakarta, 18 Oktober 2016

Quote of The Day:
“Tulislah kenangan-kenanganmu yang penuh cinta, jika tak mampu menulis maka ucapkanlah, dan jika berucap tak mampu maka cukup ingatlah, karena kenangan penuh cinta sebagai bahan retrospeksi diri dalam menggapai masa depan yang juga penuh cinta”
(lidicinta, 2016)

Senin, 03 Oktober 2016

Menjadi Suami Hari Ke-70

Ini adalah kisah kesekian kali yang ingin kutulis dalam diary kecilku. Teringat dengan salah satu program televisi masa kini “Tetangga Masa Gitu”. Setiap awal dalam episodenya selalu diberi judul “Pernikahan hari ke-...”. Terinspirasi dari sana aku ingin dalam tulisan ini kutulis judul seperti itu. “Menjadi Suami Hari ke-70” adalah judul tulisanku kali ini.
Setiap kisah sederhana dengan balutan cinta akan selalu tercetak jelas dalam kata-kata. Kali ini terkait bagaimana aku ingin menggantikan peranmu istriku, meskipun hanya sedikit, tapi tak apalah untuk dicoba.
Minggu siang yang kita nikmati dalam suasana santai, kita pun berbincang-bincang.
“Besok kan puasa, sahurnya jangan pakai gudeg ya hehe” kataku sambil meringis mengingatkanmu bahwa kita akan sahur untuk puasa senin-kamis.
“kenapa beb?” katamu
“sahur kan nggak terlalu enak makan, jadi jangan yang manis-manis buat lauk” sahutku padamu yang memang tak mau makan gudeg di kulkas kita
“terus mau makan pakai apa beb? Di kulkas masih ada kangkung, wortel, tempe” kamu yang bertanya sekaligus memberitahuku akan isi kulkas
“ehhmmm....gimana kalau aku yang masak, ntar tak masakin masakan pondok hehehe” jawabku dengan yakinnya ingin memasakkanmu,
“kangkung dioseng sama tempe,  kangkungnya nggak dipetiki, tapi diiris-iris hehe, gimana?” timpalku lagi
“ok kalau begitu” katamu sambil tersenyum
“jam berapa kita bangun” kataku
“jam 2 ya, gimana?” katamu
“ok deh, di alarm jam 2” jawabku dengan yakin
Entah apa yang aku pikirkan saat itu, aku hanya tak mau makan gudeg saat sahur, jadi aku pun punya solusi dengan memasakkan sayur buatmu. Malam telah tiba, kita pun sejenak melepas lelah dalam samudra mimpi sambil berharap akan bangun jam 2 sesuai kesepakatan kita.
Alarm berbunyi dengan nyaringnya, namun kantuk ku masih melanda. Dasar naluri suami yang selalu dilayani setiap ada maunya. Aku tak mau bangun, alarm pun dimatikan, sampai jarum jam panjang menunjuk angka 8. Dan kamu pun seperti biasa yang bangun duluan untuk membangunkanku. Istriku, naluri dan perasaanmu sebagai istri sungguh membuat aku kagum. Aku yang berniat akan bangun duluan untuk memasakkanmu, malah kamu yang membangunkanku. Mungkin memang benar, aku tak bisa menggantikan peranmu, sebagai seorang istri yang benar-benar tulus melayani setiap kebutuhanku.
Ketika kubangun, aku teringat akan janjiku padamu segera kupersiapkan peralatan dan bahan untuk memasak. Kangkung dan tempe bahan utama segera kuambil dari kulkas. Panci listrik, uleg, dan wadah tempat sayur pun tak lupa kuambil dari tempatnya. Memasak pun siap kulakukan untuk sahur kita.
Entah berapa kali aku bolak balik ke dapur dan ke kamar, untuk mengambil semua perlengkapan. Di sela aku memasak, kamu pun juga tetap mengerjakan sesuatu. Mulai dari menyetrika pakaian yang akan kupakai sampai merendam pakaian yang kan kamu cuci. Ahh...emang dasarnya kamu tak punya capek, aku yang berusaha menggantikan peranmu, malah kamu juga berperan dalam pekerjaan lain. Setelah semua siap, pagi itupun kita sahur dengan oseng kangkung tempe ditambah nugget goreng dan tahu telur. Sahur selesai, dan kitapun siap untuk jamaah subuh.
“Nanti nggak usah dicuci dulu ya pakainnya” kataku setelah selesai sholat subuh
“kenapa beb?” katamu terheran
“nggak papa, direndam dulu saja, dicuci sore saja beb, sekarang istirahat aja dulu” jawabku, dan setelah itu, senyum lebar nan manis pun keluar dari bibirmu.
“Terima kasih papa biant” katamu sesaat sebelum kita terlelap dalam tidur di pagi hari.
“i love you sayang” kataku
“i love you too papa biant” jawabmu di akhir percakapan kita
Istriku, terima kasih telah menjadikan keluarga kecil ini penuh barokah dan kebahagiaan, senyuman terindahmu selalu hiasi setiap hari dalam perjalanan bahtera rumah tangga kita. Kau tak kan terganti, baik dalam raga maupun jiwamu sebagai seorang istri. Bahkan suamimu pun tak mungkin bisa menggantikan peran sedetail yang kamu miliki. Istriku, you are my perfect person for me, therefore i will strive to be the best husband for you.

Jakarta, 2 Muharrram 1438 H 

Topi AFM 2

Upluk coklat adalah upluk yang pertama kali kami beli saat car free day hari Minggu di Telaga Golf. Saat itu usia Dede Fayy masih 4 bulan. ...