Keindahan cinta bukan karena seberapa besar dan banyak kau berikan sesuatu padanya melainkan seberapa kuat kalian bertahan dalam suka maupun duka

Jumat, 07 September 2018

Komunikasi Produktif Hari ke-2


Kaidah 2C: Clear and Clarify

Pagi ini, Alhamdulillah Zahra bangun lebih awal dari biasanya. Ayah sholat subuh di masjid sedangkan ibu di rumah. Sesampainya ayah di rumah, kami melakukan aktivitas rutin yaitu membaca Al-Quran 1 halaman beserta artinya serta membaca 1 hadist dari H.R. Bukhari-Muslim sedangkan Zahra bermain di sekitar kami mendengarkan apa yang dibacakan oleh Ayah dan Ibunya.

Setelah itu, Ibu menyiapkan sarapan di dapur sedangkan Zahra bersama ayah berolahraga di depan rumah. Setelah semua rapi, ayah dan ibu berangkat ke kantor menggunakan motor. Ketika di motorlah biasanya kami ngobrol membahas apa saja yang perlu dibahas. Pagi ini topik bahasan kami yaitu tentang Qurban tahun 1440 Hijriyah.

S : Suami
I  : Istri
S
:
Gimana soal tabungan qurban yang sebulan Rp300.000?
I
:
Hah? Apaan beb?
emang ada tabungan lagi?
Bukannya kita udah potong 1,5% setiap hasil pendapatan kita?
emang sebelumnya udah pernah ngomong tentang tabungan ini ya?
Suami bertanya 1 pertanyaan
Istri merespon balik dengan 4 pertanyaan, wkwkwkwk
Menunjukkan teori bahwa wanita lebih cerewet dibandingkan pria
S
:
Lah, bukannya aku udah cerita?
I
:
Belum (sambil mikir, mencoba mengingat-ingat)
S
:
Jadi gini beb, di RT 2 itu akan ada program tabungan Qurban tahun 2019
Setiap bulan nabung Rp300.000
I
:
Loh, ko mahal c?
S
:
Ko mahal?
kan udah berkurang 2 bulan, jadi tinggal 10 bulan lagi
10 bulan dikali Rp300.000 sama dengan Rp3.000.000
I
:
Ooooohhhhh…….gitu toh….
hmmm…terus kalau ada tabungan qurban, apa masih perlu dipotong 1,5% dari penghasilan?
S
:
Menurut sampean gimana?
I
:
Kalau menurut aku, mendingan fokus ke 1 titik dulu, baru ke yang lain
Artinya jika sudah ada tabungan Rp300.000, tidak perlu lagi ada pemotongan 1,5%
Menurut papa biant gimana?
S
:
Kalau gitu, berarti rencana awal kita gagal
I
:
Rencana awal?
Emang kita punya rencana sebelumnya ya?
Karena yang ada dalam mindset ku adalah untuk tahun 2019, kita melakukan hal seperti biasanya yaitu memotong 1,5% dari penghasilan
S
:
Kan sudah di sampaikan sama mba rohmi di grup komplek tentang tabungan qurban
I
:
Hmmm…mungkin aku ga baca kali ya beb,,atau mungkin ke skip sama obrolan lain
Mencoba mengademkan suasana
S
:
Atau gini, kita penuhi dulu aza dulu yang tabungan Qurban RT 2. Tidak perlu Rp300.000 setiap bulan, kalau misal kita ada rejeki berlebih, bisa saja di bulan itu kita nabung Rp500.000 atau kalau misal sedang punya pengeluaran berlebih, kita nabung nya Rp100.000. Setelah penuh, baru kita potong lagi yang 1,5% dari setiap penghasilan.
Biar bisa Qurban di RT 2 dan juga di kampung (Kuningan/Nganjuk)
I
:
Nah, kalau begitu aku setuju.
Fokus di 1 titik dulu baru pindah ke titik lain
S
:
Iya beb, kita harus memaksakan diri untuk ibadah. Kalau ga dipaksa, ntar ibadahnya ga jalan-jalan
I
:
Iya beb, aku juga setuju
Diam sejenak dan berfikir
Beb, kalau buat Qurban aza kita punya target, kenapa kalau buat haji ga seperti itu?
S
:
Oia yah….
Harusnya sih kita juga punya target untuk Haji

Cicilan Lunas Berangkat Haji
I
:
Wah, bagus juga tuh tagline itu,,Cicilan Lunas Berangkat Haji
Semoga Allah memudahkan dan melancarkan rezeki kita
S
:
Aamiin

Perjalanan 15,2 km di motor dari rumah ke kantor terasa begitu cepat berlalu. Hal ini ditunjang dengan kondisi lalu-lintas yang lancar dan diisi dengan obrolan yang mengasyikkan.

Di saat ada miss communication diantara komunikator dengan komunikan, maka perlu dilakukan clear and clarify. Susunlah pesan yang akan sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak. Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.

#hari2
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsay
#institutibuprofesional

Kamis, 06 September 2018

Komunikasi Produktif Hari ke-1

Choose The Right Time

Alhamdulillah, kali ini saya mendapatkan tantangan game 1 dari kelas bunda sayang Institut Ibu Profesional. Awal mendapatkan tugas, deg-degan dan belum terbayang harus mengerjakannya seperti apa. Saya share tantangan ini ke suami melalui WhatsApp. Luar biasa, responnya begitu sangat mendukung dan memberikan semangat.

Untuk meminimalisir kebingungan yang ada, saya mengajukan beberapa pertanyaan kepada koordinator bulanan yang nantinya akan dibahas pada jam diskusi. Setelah mendapatkan penjelasan dari kegalauan yang melanda, sungguh merupakan nikmat yang luar biasa, seperti oase di tengah padang pasir. Saya mulai tercerahkan akan game ini.

Kemudian selanjutnya saya melakukan diskusi dengan suami. Diskusi ini terasa begitu santai namun fokus. Fisik sudah bersih dari segala aktivitas seharian di luar rumah, perut telah terisi dengan cukup, kewajiban menyembah pada-Nya telah tertunaikan, anak sudah istirahat di kamar dengan nyenyak, suasana rumah yang begitu tenang karena terdengar bunyi gemericik air, dan urusan domestik telah selesai.

Selama diskusi dengan suami, kami begitu menikmati, membahas tentang sasaran tantangan game level 1. Apakah melakukan komunikasi produktif dengan pasangan (orang dewasa) atau anak? Setelah melalui banyak pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk menggunakan sasaran pasangan (orang dewasa) untuk 5 hari pertama. Bahasan selanjutnya yaitu sosial media yang akan digunakan.

Saya mengajukan beberapa pilihan, yaitu FB, IG, atau blog. Suami memberikan kebebasan untuk memilih. Saya berfikir, jika media publikasi yang dipilih adalah FB atau IG, saya sudah terbiasa menulis status, namun jika yang dipilih adalah media blog, saya merasa tertantang. Bismillah, dengan keinginan yang kuat dan dukungan suami, saya akhirnya memilih media blog.

Di akhir diskusi, suami memberikan wejangan seperti ini:
“Beb, tugas utama sampean adalah menjadi ibu dan istri, menuntut ilmu adalah tugas tambahan sampean. Jangan sampai tugas tambahan ini membuat sampean melalaikan tugas utama. Misal, ga masak karena sibuk mengerjakan tugas, di kantor ga melaksanakan kewajiban karena alasan mengerjakan tugas ini. Jalani ini dengan enjoy, seperti sampean mengerjakan suatu hobi. Walaupun menyita waktu untuk mengerjakannya, jangan jadikan beban. Aku yakin sampean bisa melakukan ini dengan baik. Semangat memberikan yang terbaik ya beb”.

Mendengar wejangan ini, aku jadi terharu dan bersyukur. Bersyukur mendapatkan pasangan yang sangat sangat mendukung segala aktivitasku, yang bisa di ajak diskusi, dan yang mau menerima aku apa adanya. Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah… Ana Uhibbuka Fillah

Dengan memilih waktu yang tepat, memudahkan transfer informasi dari kedua belah pihak dan mendapatkan hasil yang optimal

#hari1
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsay
#institutibuprofesional

Rabu, 19 Juli 2017

Cinta dan Persahabatan (part 3)

Ina

"Ina coba mainkan biola mu", suruh Pak Fadhil. Biola pun digesek, tampak Pak Fadhil memperhatikan dengan serius lantunan biola dari salah satu murid terbaiknya, Ina. Lagu Butterfly milik Melly Goeslow ia mainkan dengan biola, ditambah aransemen yang khusus dibuat olehnya. Nada-nada yang ia mainkan begitu indah, hingga Pak Fadhil menikmati sambil mengayunkan kepalanya. Bahkan biola yang dimainkan Ina sudah berakhirpun Pak Fadhil tak berhenti menikmatinya.

"It's perfect Ina, you are the best" puji Pak Fadhil. "Thank You Sir, kira-kira apa yang kurang dari Ina?" tanyanya pada Pak Fadhil. "Bapak kira sudah bagus, aransemen yang kamu buat benar-benar alami, dan itu merupakan ciri khasmu, jangan lupa, kamu tak boleh berhenti belajar, harus terus mengembangkannya" kata pak Fadhil memberikan saran untuk Ina. "Siap pak, saya akan mencoba membuat aransemen lagi dengan lagu lain" sambung Ina.

Sabtu siang itu, banyak sekali pelajaran yang didapat Ina dari Pak Fadhil, guru biola di Sekolah musik "Nada Cinta". Ina adalah murid terbaik di sekolah itu, tak hanya hebat memainkan biola, tetapi juga bisa mengaransemen sendiri tanpa bantuan gurunya.

Biola adalah Ina dan Ina adalah biola, itulah gambaran Pak Fadhil untuk Ina dengan biola kesayangannya. Biola yang berwarna biru muda dan penuh sticker doraemon. Ketenangannya dalam bermain biola menjadikan setiap orang yang mendengar menikmatinya.

"Sir, aku bercita-cita, suatu saat aku ingin mengadakan konser biola" ucap Ina secara tiba-tiba ke Pak Fadhil. "That's a good dream, kamu pasti bisa Ina, bahkan tak hanya di Jakarta, namun bisa melanglang buana, sampai Amerika, Eropa, dan seluruh dunia, kembangkan bakatmu, you are the best" kata Pak Fadhil menyemangati Ina, Tampak Ina benar-benar senang dan semakin yakin akan cita-citanya.

Ina, sang gadis metropolitan pemain biola. Paras yang cantik ditambah kelihaian bermain biola, menjadikan ia begitu dikenal, baik di sekolahnya maupun sekolah musik Nada Cinta. Seperti kata pak Fadhil, Ina adalah biola dan biola adalah Ina. Begitulah kira-kira gambaran seorang gadis cantik pemain biola, Ina.

Bersambung...

Kamis, 06 Juli 2017

Cinta dan Persahabatan (Part 2)


Dila

Ada sebuah kampung yang penuh dengan suasana kesejukan, ketentraman, dan kehangatan warganya. Kampung Sawah namanya. Sesuai dengan namanya, kampung itu di kelilingi sawah-sawah di sekitarnya. Padi tampak hijau, pepohonan tampak berjejer di setiap sudut rumah maupun pinggir jalan, menambah daya tarik tersendiri. Suasana islami sangat kental di kampung itu. Sebagian besar warganya tak pernah meninggalkan sholat jamaah di masjid. Kegiatan-kegiatan keagamaan pun menjadi agenda setiap tahunnya.

Siang itu tanggal 3 Syawal, tampak para pengurus masjid dan santri mendirikan tenda dan mengatur kursi di halaman. Pengajian dalam rangka Halal bi Halal warga Kampung Sawah menjadi agenda pada hari itu. Kegiatan ini memang rutin dilakukan setiap tahunnya. Seperti biasa, tampak Kyai Hamid yang langsung mengomandoi persiapan pengajian. Beliaulah Kyai di Kampung Sawah. Pemilik Pesantren Al-Muthmainnah. Seorang kyai yang sangat disegani namun selalu dekat dengan jamaah, bahkan ceramah-ceramah beliau selalu ditunggu. Kocak dan penuh kalimat hikmah, itulah gambarannya.

Malam telah tiba, banyak warga berdatangan ke masjid untuk mengikuti pengajian. Sebagian besar sudah berada di tempat karena mengikuti jamaah isya. Mereka begitu antusias untuk mengikuti pengajian dalam rangka halal bi halal.

Sebelum pengajian, grup Al Banjari Taman Santri menampilkan  sholawat yang diiringi dendangan alat musik al banjari. Nampak semua mengikuti dengan riang dan tak sedikit para jamaah yang ikut bersholawat mengikuti vokalisnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 20.30, tibalah saatnya acara inti. Pembawa acara maju dan memulai acara pada malam itu. Diawali dengan pembukaan lalu dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran.

Surat Ali Imran 133-136 dibaca oleh qoriah usia 14 tahun yang juga sebagai vokalis Al Banjari Taman Santri. Rangkaian ayat terucap dengan suara merdu, membuat hati para jamaah bergetar. Beberapa jamaah pun ada yang meneteskan air mata, menikmati lantunan ayat suci dari qoriah yang tampil. Rangkaian acara pun dilanjutkan dengan sambutan-sambutan lalu acara inti, pengajian dari Kyai Hamid.

Selesai acara, banyak yang membicarakan sesosok gadis rupawan, pembaca ayat suci Alquran. Pelantun sholawat nabi yang mempunyai suara merdu. Dia adalah Dila, putri satu-satunya Kyai Hamid. Sosok gadis yang menjadi kebanggaan warga Kampung Sawah. Banyak orang yang terkagum-kagum dengannya. Selain punya suara yang membuat hati menjadi tenang, di usia yang baru 14 tahun, dia sudah menjadi hafidzah.

Dila tumbuh seperti gadis biasanya. Dia punya banyak teman di kampungnya maupun pesantren abinya. Tekad yang kuat dari abi dan uminya membuat Dila tumbuh dan berkembang menjadi seorang hafidzah di usia muda. Tawadu’nya kepada abi dan umi benar-benar menjadi teladan bagi para santri di Pesantren Al-Muthmainnah.

Dila, gadis kecil nan rupawan bersuara merdu dengan kemuliaannya sebagai hafidzah


Bersambung…

Senin, 03 Juli 2017

Cinta dan Persahabatan (Part 1)


Zahra

Seorang gadis cantik yang suka mengutak atik rumus, suka membaca dan selalu mengerjakan soal-soal kesenangannya, Fisika. Iya, dialah Zahra Sang Juara Olimpiade Fisika. Anak yang cerdas, hebat, dan disukai guru serta teman-temannya. Rumus-rumus dasar tentang gerak hingga mekanika kuantum pun dilahapnya. Semua sudah di luar kepala. Untuk ukuran anak kelas 2 SMP sebenarnya dia sudah benar-benar mahir, bahkan bisa dibilang pelajaran fisika tingkat SMA pun sudah dikuasainya.

Setiap olimpiade fisika baik tingkat kabupaten hingga nasional ia yang menjadi perwakilannya. Terbaru, ia menjadi juara olimpade tingkat SMP di salah satu universitas di Surabaya. Mengalahkan perwakilan sekolah-sekolah ternama yang menjadi langganan juara.

Di balik kecerdasannya, ia juga seorang yang sangat peduli sesama. Tak jarang teman-temannya berguru padanya. Ia pun dengan mudah menjelaskan segala macam materi tentang fisika. Bahkan teman-temannya banyak yang suka dijelaskan olehnya daripada dijelaskan guru.

“Einstein Muda”, itulah julukan yang ia dapat dari teman-temannya. Bagi mereka, Zahra adalah wujud Bapak Fisika Modern itu pada diri seorang siswa perempuan. Yang lebih mengagumkan, ia tak hanya pandai dalam berteori, namun juga dalam praktiknya di kehidupan. Pernah suatu ketika dalam pelajaran olahraga. Ia duduk bersama teman-temannya. Ia coba bertanya kepada mereka “Kenapa saat di bawah di air terjun, kepala kita sakit terkena airnya?”. Teman-temannya pun bingung, lalu ia coba jelaskan “Masih ingat materi pelajaran Energi kinetik dan potensial?” katanya. Anggukan dari teman-temannya pun menggambarkan bahwa mereka ingat akan materi pelajaran itu. Lalu ia lanjutkan “Energi Mekanik selalu konstan, EM = konstan, sehingga Ek + Ep = konstan. Ep = mgh sedangkan Ek = 1/2mv2, h = ketinggian, dan v = kecepatan, saat di atas, air berjalan pelan tetapi ketinggiannya maksimum, lalu jatuh, dan saat di bawah, air tersebut dalam ketinggian minimum, tetapi kecepatan maksimum. Oleh karena itu sakit deh saat kepala kita terkena air”.

Zahra adalah gambaran seseorang yang lengkap dalam kehidupan dan menjadi idaman para orang tua, ia cantik, cerdas dan juga peduli lingkungan sekitar. Tak pernah merasa sombong akan kecerdasannya, dan selalu membantu teman yang membutuhkan. Sang juara olimpiade menjelma menjadi sosok yang selalu menjadi kebanggaan orang tua, teman, guru, dan orang di sekitarnya.



Bersambung...

Kamis, 08 Juni 2017

Meminta Secara Elegan “Memantaskan Diri Menyambut Jodoh”

“Ya sudah teh, sekarang waktunya belajar memantaskan diri di hadapan Allah, aku juga belajar kok, insyaAllah nanti akan ada yang benar-benar serius dan pantas untukmu, yakinlah”. Sebuah kalimat yang aku utarakan untuk menguatkanmu dan merubah kehidupan kita berdua.

Hari itu Sabtu pagi tanggal 16 April 2016, aku yang baru sampai di Surabaya, tiba-tiba kamu megirim pesan lewat whatsapp, sejenak aku baca, sedih, itulah perasaanku saat itu. Seandainya aku di Jakarta, pasti aku akan datang ke kosmu, membawa seplastik susu, seperti biasa aku berikan padamu, iya, itulah yang mungkin aku lakukan saat itu. Namun apadaya, aku baru turun dari kereta, dan saat itu aku berada di Surabaya. “Tenangkan dirimu, ntar aku telpon, aku turun dari kereta, nanti kalau sudah sampai mushola aku telpon” jawabku singkat saat itu karena aku masih riweuh dengan kondisiku.

Kita berbincang banyak hal, dan saat itu aku tak menyangka, diantara sekian banyak teman dan sahabatmu, akulah satu-satunya orang yang memberikan saran berbeda. Entah dalam hal apa, sampai sekarang pun aku tak mengetahuinya.

Aku tak ingin bercerita banyak tentang kita, namun disini, aku ingin menulis, terutama bagi teman –teman yang “kesulitan” menemukan jodohnya. Iya, aku ingin membagi pengalaman kita. Pengalaman yang membuat kita dibersamakan oleh Allah karena kalimat sederhana. Seperti yang aku tulis di awal tulisan ini  yang intinya “memantaskan diri di hadapan Allah”.

Entah seberapa hebat kalimat itu, seberapa manjurnya ketika dilaksanakan, setidaknya aku percaya, itulah awal aku dan kamu menjadi kita. Tuntunan Allah benar-benar begitu luar biasa. Seolah jalan menemukan jodoh “terbaik” memang sudah diberikan cahaya oleh-Nya. Kita hanya mengikuti dan berusaha menemukannya.

Aku dan kamu mencoba mulai bangun malam, memohon dengan tulus. Belajar untuk sholat taubat, tahajud, hajat, hingga istiqoroh. Mencoba mendekatkan diri pada Sang Pemilik Hati. Belajar memantaskan diri pada Robbi Izzati. Meminta namun tak memaksa, berdoa namun tak pernah putus asa dalam berusaha. Itulah akhirnya yang aku namakan Meminta Secara Elegan.

Dengan kalimat sederhana “memantaskan diri”, seolah memberikan suatu ruang tersendiri dalam hati. Tak bernafsu mengejar jodoh, pun tak memaksa segera diberikan. Karena dengan itu, kita seolah pasrah akan apa yang Allah berikan. Memang sulit untuk dilakukan, namun setidaknya dengan ditambah kata “belajar”, maka akan terasa lebih ringan. Butuh sebuah keyakinan dan tekad serta keikhlasan untuk itu.

Teh Lia juga tak menyangka, jodohnya adalah sahabatnya sendiri. Apalagi sahabat yang terkenal begejekan dan semaunya sendiri. Namun toh akhirnya, dia tahu dan sadar, Allah menunjukkan jalan-Nya. Apalagi aku, percaya tak percaya jodohku adalah sahabat sendiri yang selama ini jadi tempat curhat.  Itulah rahasia Allah Sang Maha Pembolak Balik Hati. Jika sudah waktunya pasti akan ditunjukkan, jika sudah pantas, pasti akan dipertemukan.

Semoga sedikit cerita bisa menjadi sebuah pengalaman berharga. Terlebih semoga menjadi pelajaran untuk teman yang masih sulit menemukan jodohnya. Bukankah jodoh itu di Tangan Allah? Jadi kenapa tidak mendekat dan memantaskan diri saja di hadapan-Nya jika ingin dipertemukan jodohnya. Kita bukan ahli ibadah, ahli ilmu, apalagi makhluk paling dekat dengan-Nya, tetapi setidaknya kita mencoba untuk terus belajar, belajar dan belajar memantasakan diri di hadapan-Nya.

Sabtu, 18 Maret 2017

Istriku, Super Girl di Dunia Nyata

Sabtu dan Minggu ini tak seperti biasanya. Aku dan kamu yang biasa di rumah menikmati akhir pekan, kini kamu harus kegiatan. Namun aku tak mempermasalahkan itu karena itu bagian dari tanggung jawab kita kepada Negara.
Istriku, tulisan ini aku persembahkan kepadamu sebagai kebanggaan dan rasa salutku padamu. Aku hanya ingin sedikit bercerita di kesendirian yang aku alami di rumah. Baru ditinggal sehari saja semua pekerjaan rumah seakan menumpuk. Biasanya kamu harus masak, nyuci baju, ngepel rumah dan sebagainya. Kini aku mengalaminya sendiri, aku mencoba meniru gaya mu, meniru perilakumu ketika di rumah, mengerjakan semua yang kamu kerjakan.
Namun istriku, baru sedikit saja semua terasa malas, semua terasa kurang. Entah karena tak biasa atau bagaimana, aku tak tahu. Aku yang sehari saja terasa begini, apalagi kamu sayang. Setiap hari seolah kamu tanpa capek mengerjakan semuanya. Kamu yang harus bekerja di kantor, pagi sudah menyiapkan sarapan, bahkan ketika Senin Kamis kamu harus bangun jam 3 pagi untuk menyiapkan makan sahurku. Pulang kerja kamu lakukan ini itu tanpa terasa capek. Di akhir pekan malah kamu dari bangun tidur sampai siang melakukan segalanya, mencuci, memasak, ngepel dan sebagainya. Itupun masih ditambah setiap hari kamu selalu memijat kaki dan tanganku, yang bagimu aku capek karena mengendarai motor. Jika aku tak menyuruhmu istirahat, kamu pun tak mau untuk merebahkan sejenak badanmu.
Istriku, di tengah kamu bekerja sesuai keinginanmu, kamu benar-benar tak mau sedikitpun untuk tak berbakti pada suamimu. Rasa capek kamu hilangkan, lelah kamu abaikan, aku tak tahu harus bagaimana lagi ku berucap terima kasih padamu. Karena bagiku, terima kasih saja tak akan cukup mengganti semua yang kamu baktikan untukku.
Jika di film-film atau sinetron, ada wanita super yang menolong sesama dan memberantas kejahatan. Namun di dunia nyata, kamulah satu-satunya wanita selain emakku di kampung yang menjadi wanita super bagiku. Menjadi kebanggaanku, menjadi orang spesial dalam hidupku. You are the best and you are the Super Girl my Sweety.

Topi AFM 2

Upluk coklat adalah upluk yang pertama kali kami beli saat car free day hari Minggu di Telaga Golf. Saat itu usia Dede Fayy masih 4 bulan. ...