Ina
"Ina coba mainkan biola mu", suruh Pak Fadhil. Biola pun digesek, tampak Pak Fadhil memperhatikan dengan serius lantunan biola dari salah satu murid terbaiknya, Ina. Lagu Butterfly milik Melly Goeslow ia mainkan dengan biola, ditambah aransemen yang khusus dibuat olehnya. Nada-nada yang ia mainkan begitu indah, hingga Pak Fadhil menikmati sambil mengayunkan kepalanya. Bahkan biola yang dimainkan Ina sudah berakhirpun Pak Fadhil tak berhenti menikmatinya.
"It's perfect Ina, you are the best" puji Pak Fadhil. "Thank You Sir, kira-kira apa yang kurang dari Ina?" tanyanya pada Pak Fadhil. "Bapak kira sudah bagus, aransemen yang kamu buat benar-benar alami, dan itu merupakan ciri khasmu, jangan lupa, kamu tak boleh berhenti belajar, harus terus mengembangkannya" kata pak Fadhil memberikan saran untuk Ina. "Siap pak, saya akan mencoba membuat aransemen lagi dengan lagu lain" sambung Ina.
Sabtu siang itu, banyak sekali pelajaran yang didapat Ina dari Pak Fadhil, guru biola di Sekolah musik "Nada Cinta". Ina adalah murid terbaik di sekolah itu, tak hanya hebat memainkan biola, tetapi juga bisa mengaransemen sendiri tanpa bantuan gurunya.
Biola adalah Ina dan Ina adalah biola, itulah gambaran Pak Fadhil untuk Ina dengan biola kesayangannya. Biola yang berwarna biru muda dan penuh sticker doraemon. Ketenangannya dalam bermain biola menjadikan setiap orang yang mendengar menikmatinya.
"Sir, aku bercita-cita, suatu saat aku ingin mengadakan konser biola" ucap Ina secara tiba-tiba ke Pak Fadhil. "That's a good dream, kamu pasti bisa Ina, bahkan tak hanya di Jakarta, namun bisa melanglang buana, sampai Amerika, Eropa, dan seluruh dunia, kembangkan bakatmu, you are the best" kata Pak Fadhil menyemangati Ina, Tampak Ina benar-benar senang dan semakin yakin akan cita-citanya.
Ina, sang gadis metropolitan pemain biola. Paras yang cantik ditambah kelihaian bermain biola, menjadikan ia begitu dikenal, baik di sekolahnya maupun sekolah musik Nada Cinta. Seperti kata pak Fadhil, Ina adalah biola dan biola adalah Ina. Begitulah kira-kira gambaran seorang gadis cantik pemain biola, Ina.
Bersambung...
Rabu, 19 Juli 2017
Kamis, 06 Juli 2017
Cinta dan Persahabatan (Part 2)
Dila
Ada sebuah kampung yang penuh
dengan suasana kesejukan, ketentraman, dan kehangatan warganya. Kampung Sawah
namanya. Sesuai dengan namanya, kampung itu di kelilingi sawah-sawah di
sekitarnya. Padi tampak hijau, pepohonan tampak berjejer di setiap sudut rumah
maupun pinggir jalan, menambah daya tarik tersendiri. Suasana islami sangat
kental di kampung itu. Sebagian besar warganya tak pernah meninggalkan sholat jamaah
di masjid. Kegiatan-kegiatan keagamaan pun menjadi agenda setiap tahunnya.
Siang itu tanggal 3 Syawal,
tampak para pengurus masjid dan santri mendirikan tenda dan mengatur kursi di
halaman. Pengajian dalam rangka Halal bi Halal warga Kampung Sawah menjadi
agenda pada hari itu. Kegiatan ini memang rutin dilakukan setiap tahunnya. Seperti
biasa, tampak Kyai Hamid yang langsung mengomandoi persiapan pengajian.
Beliaulah Kyai di Kampung Sawah. Pemilik Pesantren Al-Muthmainnah. Seorang kyai
yang sangat disegani namun selalu dekat dengan jamaah, bahkan ceramah-ceramah beliau
selalu ditunggu. Kocak dan penuh kalimat hikmah, itulah gambarannya.
Malam telah tiba, banyak warga
berdatangan ke masjid untuk mengikuti pengajian. Sebagian besar sudah berada di
tempat karena mengikuti jamaah isya. Mereka begitu antusias untuk mengikuti pengajian
dalam rangka halal bi halal.
Sebelum pengajian, grup Al
Banjari Taman Santri menampilkan
sholawat yang diiringi dendangan alat musik al banjari. Nampak semua
mengikuti dengan riang dan tak sedikit para jamaah yang ikut bersholawat
mengikuti vokalisnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul
20.30, tibalah saatnya acara inti. Pembawa acara maju dan memulai acara pada
malam itu. Diawali dengan pembukaan lalu dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci
Al-Quran.
Surat Ali Imran
133-136 dibaca oleh qoriah usia 14 tahun yang juga sebagai vokalis Al Banjari
Taman Santri. Rangkaian ayat terucap dengan suara merdu, membuat hati para
jamaah bergetar. Beberapa jamaah pun ada yang meneteskan air mata, menikmati
lantunan ayat suci dari qoriah yang tampil. Rangkaian acara pun dilanjutkan
dengan sambutan-sambutan lalu acara inti, pengajian dari Kyai Hamid.
Selesai acara,
banyak yang membicarakan sesosok gadis rupawan, pembaca ayat suci Alquran.
Pelantun sholawat nabi yang mempunyai suara merdu. Dia adalah Dila, putri
satu-satunya Kyai Hamid. Sosok gadis yang menjadi kebanggaan warga Kampung
Sawah. Banyak orang yang terkagum-kagum dengannya. Selain punya suara yang
membuat hati menjadi tenang, di usia yang baru 14 tahun, dia sudah menjadi
hafidzah.
Dila tumbuh
seperti gadis biasanya. Dia punya banyak teman di kampungnya maupun pesantren abinya.
Tekad yang kuat dari abi dan uminya membuat Dila tumbuh dan berkembang menjadi
seorang hafidzah di usia muda. Tawadu’nya kepada abi dan umi benar-benar
menjadi teladan bagi para santri di Pesantren Al-Muthmainnah.
Dila, gadis
kecil nan rupawan bersuara merdu dengan kemuliaannya sebagai hafidzah
Bersambung…
Senin, 03 Juli 2017
Cinta dan Persahabatan (Part 1)
Zahra
Seorang gadis cantik yang
suka mengutak atik rumus, suka membaca dan selalu mengerjakan soal-soal
kesenangannya, Fisika. Iya, dialah Zahra Sang Juara Olimpiade Fisika. Anak yang
cerdas, hebat, dan disukai guru serta teman-temannya. Rumus-rumus dasar tentang
gerak hingga mekanika kuantum pun dilahapnya. Semua sudah di luar kepala. Untuk
ukuran anak kelas 2 SMP sebenarnya dia sudah benar-benar mahir, bahkan bisa
dibilang pelajaran fisika tingkat SMA pun sudah dikuasainya.
Setiap olimpiade fisika baik
tingkat kabupaten hingga nasional ia yang menjadi perwakilannya. Terbaru, ia
menjadi juara olimpade tingkat SMP di salah satu universitas di Surabaya. Mengalahkan
perwakilan sekolah-sekolah ternama yang menjadi langganan juara.
Di balik kecerdasannya, ia juga
seorang yang sangat peduli sesama. Tak jarang teman-temannya berguru padanya. Ia
pun dengan mudah menjelaskan segala macam materi tentang fisika. Bahkan teman-temannya
banyak yang suka dijelaskan olehnya daripada dijelaskan guru.
“Einstein Muda”, itulah julukan
yang ia dapat dari teman-temannya. Bagi mereka, Zahra adalah wujud Bapak
Fisika Modern itu pada diri seorang siswa perempuan. Yang lebih mengagumkan, ia
tak hanya pandai dalam berteori, namun juga dalam praktiknya di kehidupan.
Pernah suatu ketika dalam pelajaran olahraga. Ia duduk bersama teman-temannya. Ia
coba bertanya kepada mereka “Kenapa saat di bawah di air terjun, kepala kita sakit
terkena airnya?”. Teman-temannya pun bingung, lalu ia coba jelaskan “Masih
ingat materi pelajaran Energi kinetik dan potensial?” katanya. Anggukan dari
teman-temannya pun menggambarkan bahwa mereka ingat akan materi pelajaran itu. Lalu ia lanjutkan “Energi
Mekanik selalu konstan, EM = konstan, sehingga Ek + Ep = konstan. Ep = mgh
sedangkan Ek = 1/2mv2, h = ketinggian, dan v = kecepatan, saat di
atas, air berjalan pelan tetapi ketinggiannya maksimum, lalu jatuh, dan saat di
bawah, air tersebut dalam ketinggian minimum, tetapi kecepatan maksimum. Oleh karena
itu sakit deh saat kepala kita terkena air”.
Zahra adalah gambaran seseorang
yang lengkap dalam kehidupan dan menjadi idaman para orang tua, ia cantik, cerdas
dan juga peduli lingkungan sekitar. Tak pernah merasa sombong akan
kecerdasannya, dan selalu membantu teman yang membutuhkan. Sang juara olimpiade
menjelma menjadi sosok yang selalu menjadi kebanggaan orang tua, teman, guru, dan
orang di sekitarnya.
Bersambung...
Kamis, 08 Juni 2017
Meminta Secara Elegan “Memantaskan Diri Menyambut Jodoh”
“Ya sudah teh,
sekarang waktunya belajar memantaskan diri di hadapan Allah, aku juga belajar
kok, insyaAllah nanti akan ada yang benar-benar serius dan pantas untukmu,
yakinlah”. Sebuah kalimat yang aku utarakan untuk menguatkanmu dan merubah
kehidupan kita berdua.
Hari itu Sabtu pagi
tanggal 16 April 2016, aku yang baru sampai di Surabaya, tiba-tiba kamu megirim
pesan lewat whatsapp, sejenak aku baca, sedih, itulah perasaanku saat itu.
Seandainya aku di Jakarta, pasti aku akan datang ke kosmu, membawa seplastik
susu, seperti biasa aku berikan padamu, iya, itulah yang mungkin aku lakukan
saat itu. Namun apadaya, aku baru turun dari kereta, dan saat itu aku berada di
Surabaya. “Tenangkan dirimu, ntar aku telpon, aku turun dari kereta, nanti
kalau sudah sampai mushola aku telpon” jawabku singkat saat itu karena aku
masih riweuh dengan kondisiku.
Kita berbincang banyak
hal, dan saat itu aku tak menyangka, diantara sekian banyak teman dan
sahabatmu, akulah satu-satunya orang yang memberikan saran berbeda. Entah dalam
hal apa, sampai sekarang pun aku tak mengetahuinya.
Aku tak ingin
bercerita banyak tentang kita, namun disini, aku ingin menulis, terutama bagi
teman –teman yang “kesulitan” menemukan jodohnya. Iya, aku ingin membagi
pengalaman kita. Pengalaman yang membuat kita dibersamakan oleh Allah karena
kalimat sederhana. Seperti yang aku tulis di awal tulisan ini yang intinya “memantaskan diri di hadapan
Allah”.
Entah seberapa hebat
kalimat itu, seberapa manjurnya ketika dilaksanakan, setidaknya aku percaya,
itulah awal aku dan kamu menjadi kita. Tuntunan Allah benar-benar begitu luar
biasa. Seolah jalan menemukan jodoh “terbaik” memang sudah diberikan cahaya
oleh-Nya. Kita hanya mengikuti dan berusaha menemukannya.
Aku dan kamu mencoba
mulai bangun malam, memohon dengan tulus. Belajar untuk sholat taubat, tahajud,
hajat, hingga istiqoroh. Mencoba mendekatkan diri pada Sang Pemilik Hati.
Belajar memantaskan diri pada Robbi Izzati. Meminta namun tak memaksa, berdoa
namun tak pernah putus asa dalam berusaha. Itulah akhirnya yang aku namakan
Meminta Secara Elegan.
Dengan kalimat
sederhana “memantaskan diri”, seolah memberikan suatu ruang tersendiri dalam
hati. Tak bernafsu mengejar jodoh, pun tak memaksa segera diberikan. Karena
dengan itu, kita seolah pasrah akan apa yang Allah berikan. Memang sulit untuk
dilakukan, namun setidaknya dengan ditambah kata “belajar”, maka akan terasa
lebih ringan. Butuh sebuah keyakinan dan tekad serta keikhlasan untuk itu.
Teh Lia juga tak
menyangka, jodohnya adalah sahabatnya sendiri. Apalagi sahabat yang terkenal
begejekan dan semaunya sendiri. Namun toh akhirnya, dia tahu dan sadar, Allah
menunjukkan jalan-Nya. Apalagi aku, percaya tak percaya jodohku adalah sahabat
sendiri yang selama ini jadi tempat curhat.
Itulah rahasia Allah Sang Maha Pembolak Balik Hati. Jika sudah waktunya pasti
akan ditunjukkan, jika sudah pantas, pasti akan dipertemukan.
Semoga sedikit cerita
bisa menjadi sebuah pengalaman berharga. Terlebih semoga menjadi pelajaran
untuk teman yang masih sulit menemukan jodohnya. Bukankah jodoh itu di Tangan
Allah? Jadi kenapa tidak mendekat dan memantaskan diri saja di hadapan-Nya jika
ingin dipertemukan jodohnya. Kita bukan ahli ibadah, ahli ilmu, apalagi makhluk
paling dekat dengan-Nya, tetapi setidaknya kita mencoba untuk terus belajar,
belajar dan belajar memantasakan diri di hadapan-Nya.
Sabtu, 18 Maret 2017
Istriku, Super Girl di Dunia Nyata
Sabtu dan Minggu ini tak seperti biasanya. Aku dan kamu yang biasa di
rumah menikmati akhir pekan, kini kamu harus kegiatan. Namun aku tak
mempermasalahkan itu karena itu bagian dari tanggung jawab kita kepada Negara.
Istriku, tulisan ini aku persembahkan kepadamu sebagai kebanggaan dan
rasa salutku padamu. Aku hanya ingin sedikit bercerita di kesendirian yang aku
alami di rumah. Baru ditinggal sehari saja semua pekerjaan rumah seakan
menumpuk. Biasanya kamu harus masak, nyuci baju, ngepel rumah dan sebagainya.
Kini aku mengalaminya sendiri, aku mencoba meniru gaya mu, meniru perilakumu
ketika di rumah, mengerjakan semua yang kamu kerjakan.
Namun istriku, baru sedikit saja semua terasa malas, semua terasa
kurang. Entah karena tak biasa atau bagaimana, aku tak tahu. Aku yang sehari
saja terasa begini, apalagi kamu sayang. Setiap hari seolah kamu tanpa capek
mengerjakan semuanya. Kamu yang harus bekerja di kantor, pagi sudah menyiapkan
sarapan, bahkan ketika Senin Kamis kamu harus bangun jam 3 pagi untuk
menyiapkan makan sahurku. Pulang kerja kamu lakukan ini itu tanpa terasa capek.
Di akhir pekan malah kamu dari bangun tidur sampai siang melakukan segalanya,
mencuci, memasak, ngepel dan sebagainya. Itupun masih ditambah setiap hari kamu
selalu memijat kaki dan tanganku, yang bagimu aku capek karena mengendarai
motor. Jika aku tak menyuruhmu istirahat, kamu pun tak mau untuk merebahkan
sejenak badanmu.
Istriku, di tengah kamu bekerja sesuai keinginanmu, kamu benar-benar tak
mau sedikitpun untuk tak berbakti pada suamimu. Rasa capek kamu hilangkan,
lelah kamu abaikan, aku tak tahu harus bagaimana lagi ku berucap terima kasih
padamu. Karena bagiku, terima kasih saja tak akan cukup mengganti semua yang
kamu baktikan untukku.
Jika di film-film atau sinetron, ada wanita super yang menolong sesama
dan memberantas kejahatan. Namun di dunia nyata, kamulah satu-satunya wanita
selain emakku di kampung yang menjadi wanita super bagiku. Menjadi
kebanggaanku, menjadi orang spesial dalam hidupku. You are the best and you are the Super Girl my Sweety.
Selasa, 10 Januari 2017
Kelak, Anak Kita Mau Jadi Apa?
Percakapan sederhana yang aku bicarakan dengan istri sehabis sholat isya
membuat semua seakan sudah nyata. Merencanakan kebutuhan anak dalam pendidikan,
menyatukan pendapat untuk sang buah hati, semua seolah tergambar dalam balutan
percakapan itu. Diawali dari bersandarnya istri ke pangkuanku, tiba-tiba ia
mulai pertanyaannya. Menanyakan bagaimana pandanganku tentang akademik anak,
apakah nanti akan kita tuntut atau bagaimana.
Dari situ aku teringat dulu sebelum menikah, aku ingin kelak anakku
mendapatkan pendidikan terbaik. Hal itu pasti yang diharapkan dari semua orang
tua di muka bumi ini. Namun semua itu tak akan pernah tercapai jika tak
direncanakan dan diwujudkan.
Seketika itupun aku bercerita ke istriku, dia dengan sabarnya
mendengarkan kata per kata, kalimat per kalimat yang aku kemukakan, kurang
lebih seperti inilah yang aku katakan “Gini beb, aku orangnya tidak mau
menuntut akademiknya, yang penting akhlaknya, karena itu nanti yang akan
membawa manfaat buat orang lain, namun tak menutup kemungkinan dia juga harus
pintar. Aku punya angan-angan, aku tak mau memasukkan anak kita ke sekolah
negeri. Bukan berarti sekolah negeri itu nggak baik, coba deh dari pengalaman
kita di sekolah negeri, kebanyakan yang dituntut adalah pintar, tetapi akhlak
nya kurang diperhatikan, sekolah-sekolah berlomba-lomba menjadi sekolah dengan
nilai UNAS tertinggi, berlomba-lomba yang paling banyak masuk PTN favorit,
hanya otaknya yang dipikirkan, meskipun tak semuanya sekolah negeri begitu. Aku
punya rencana, nanti ketika SD anak kita akan kita sekolahkan di sekolah
swasta, sekolah islam, sekolah yang memberikan pembelajaran akhlak yang baik.
Itu harapanku beb, kalau pintar kita bisa ngajarin, tapi kalau akhlak, kita kan
sama-sama kerja, ya guru-guru di sekolah yang kita harapkan. Bahkan nanti
ketika SMP aku ingin anak kita masuk pesantren. Karena aku tak ingin hanya
memikirkan dunia saja, kita harus pikirkan akhirat, jadi aku tak menuntut anak
kita pintar yang utama akhlaknya baik”.
Begitulah lebih kurangnya apa yang aku katakan ke istri. Respon istri
sungguh membuatku tenang dan senang. Kami sehati, kami sama-sama ingin yang
terbaik untuk anak kami. Kami tak ingin menuntutnya karena anak punya kelebihan
di bidang lain, kami ingin membentuk karakter yang baik ke anak, dan semua itu seolah tanpa ada perbedaan pendapat di antara
kami, satu hati satu pikiran untuk sang buah hati tercinta.
Kawan-kawan pembaca, kami bukan berarti menjustifikasi bahwa sekolah negeri itu kurang baik, swasta pun belum
tentu baik, kita punya cara masing-masing untuk mendidik anak, kita punya
rencana masing-masing untuk pendidikan anak. Ada yang ingin masuk di sekolah
negeri favorit, ada yang ingin masuk sekolah yang paling mahal, ada juga yang
penting sekolah, bahkan ada juga yang tak mau anaknya sekolah. Semua itu adalah
hak masing-masing, dan yang pasti semua orang tua pasti ingin memberikan yang
terbaik buat anaknya. Dan kami pun sadar akan hal itu, oleh karena itu, kami
akan bersama dalam keluarga kecil ini, belajar untuk memberikan yang terbaik
untuk buah hati kami kelak.
“Di dunia ini tak ada satupun universitas yang memberikan gelar profesor
orang tua , oleh karena itu dibutuhkan waktu sepanjang hayat untuk terus
belajar, belajar menjadi ayah dan ibu yang terbaik untuk buah hatinya”
lidicinta, 2017
Selasa, 20 Desember 2016
Untukmu Calon Buah Hatiku
Aku tak tahu kamu
sekarang lagi apa di alam sana. Apakah kamu masih bercakap-cakap dengan Tuhan?
Atau lagi bergembira ria karena akan segera ditiupkan ke dalam rahim ibumu.
Ahh...sekali lagi aku tak tahu kamu sedang apa. Ayah dan ibu siap menyambut
kehadiranmu sayang, ayah dan ibu siap memelukmu, mendekapmu, dan membimbingmu dengan
penuh cinta.
Apakah kamu disana tahu,
kami begitu senang melihat perkembanganmu dalam rahim ibumu. Iya, kami memang
benar-benar tak sabar segera bertemu denganmu. Tujuh bulan lagi sayang, tujuh
bulan lagi kami akan mendengar tangisan pertamamu saat kamu melihat dunia ini,
tangisan cintamu yang bisa membuat kami meneteskan air mata bahagia.
Dua bulan sudah berlalu,
dan kami senang sekali sayang, kamu sehat dan berkembang dengan baik. Tak
henti-hentinya ayah dan ibu bersyukur pada Allah Sang Pencipta. Sabtu lalu
sesuai saran dokter, kami ingin mengetahui kondisimu, sehingga kami periksa ke
RSIA Asyifa Depok.
“Beb, habis magrib kita
langsung siap-siap ke Asyifa ya, takutnya antri banyak” kata ayah kepada ibumu di
sela-sela makan sore hari, “Iya beb, entar habis magrib kita berangkat” kata
ibumu
Sesuai
rencana, kami pun segera berangkat ke Asyifa setelah magrib. Ayah dan ibu tak
sabar ingin tahu bagaimana kondisimu saat ini.
“Mbak,
mau periksa” kata ayah ke receptionist
“Periksa
kandungan ya pak?” balasnya
“Iya
mbak, antri berapa nomor?” sahut ayah
“Bapak
nomor 12, bagaimana pak?” kata si receptionistnya
“lama
juga ya mbak, emangnya mulai jam berapa kok udah segitu antriannya?” tanya ayah
dengan heran
“kalau
daftar mulai jam 5 pak, tapi antriannya dibuka setengah 7” jawabnya
Tahukah
kamu anakku, waktu itu sebenarnya belum ada jam 7, dan kami dapat antrian nomor
12. Seperti biasa sebelum periksa ke dokter, ibumu cek tekanan darah dulu, dan
yang membuat ayah khawatir waktu itu, ibumu tensinya rendah,90. Akhirnya kami
makan dulu lalu sholat isya sebelum ibumu diperiksa.
Sayang, di tengah
ketidaksabaran kami yang ingin melihat kondisimu, kami harus berusaha sabar menunggu
antrian. Bahkan ibumu sampai ketiduran karena kelaman menunggu, dari jam 7 sampai
sekitar jam setengah 10 malam.
Ketika disebut nama
ibumu, entah kenapa ayah jadi agak gemetaran, ayah yang tadinya biasa-biasa
saja, menjadi seolah ragu melangkah, takut hasilnya tak sesuai harapan. Itu
yang ayah alami, apalagi ibumu yang beliaunya kamu tempati rahimnya.
“Alhamdulillah sehat bu”
kata dr. Annisar kepada ibumu yang ayah dengarkan
Ayah tak tau apa-apa,
karena waktu itu ayah ada di meja dokter, sedangkan ibumu berbaring tertutup
gorden bersama sang dokter. Namun rasa bersyukur ayah semakin tinggi mendengar
perkataan dokter itu sayang. Seandainya kamu disana juga mengetahuinya, ayah
yakin, kamu juga pasti sangat senang. Tiba-tiba ayah dipersilahkan melihat
kondisimu melalui USG.
“Ini jantungnya pak bu,
ini calon kaki, calon kepala, calon tangan, alhamdulillah sehat” kata dokter
yang membuat ayah ingin meneteskan air mata bahagia, “ini coba dengarkan suara
jantungnya” sahut dokter yang mengeraskan suara jantungmu. Ayah dan ibu
benar-benar bahagia sayang, bahagia melihatmu sehat dan tumbuh kembang dengan
baik.
Sayang, melalui goresan
kata ini, ayah dan ibu ingin mengabadikan kebahagiaan menyambut kehadiranmu.
Kelak, saat kamu sudah bisa membaca dan tumbuh dewasa, kamu bisa merasakan
kebahagiaan ayah dan ibu. Jikalau suatu saat ayah dan ibu punya salah, bacalah
goresan kata ini, dan pahamilah, bahwa sejak dalam kandungan sampai selamanya kami
akan selalu sayang padamu, kami selalu ingin memberikan yang terbaik untukmu, dan
kami akan selalu berusaha membimbingmu untuk mendekat dan mencintai Tuhanmu,
Tuhan kami, Tuhan kita semua, Allah Sang Maha Cinta.
Untukmu sayangku, buah
hati kesayangan ayah dan ibu, We Love You
Jakarta, 20 Desember
2016
Langganan:
Postingan (Atom)
Topi AFM 2
Upluk coklat adalah upluk yang pertama kali kami beli saat car free day hari Minggu di Telaga Golf. Saat itu usia Dede Fayy masih 4 bulan. ...
-
Upluk coklat adalah upluk yang pertama kali kami beli saat car free day hari Minggu di Telaga Golf. Saat itu usia Dede Fayy masih 4 bulan. ...
-
Alhamdulillah, Allah memberikan kesempatan kepada Kakak Zahra hingga ma sih bisa menghirup udara gratis hingga saat ini, yakni 16 Juli 2...
-
Lahmudin. Itulah nama yang tertera dalam aplikasi gojek untuk mengantarkan ku ke Cipete. Tak butuh waktu lama untuk menunggu kedatangannya...



