Keindahan cinta bukan karena seberapa besar dan banyak kau berikan sesuatu padanya melainkan seberapa kuat kalian bertahan dalam suka maupun duka

Kamis, 03 November 2016

Surat Cinta Untuk Istriku

Istriku
Seringkali saat kita ngobrol berdua, kau bercerita, teman-temanmu banyak yang bilang, suamimu romantis, kamu beruntung memiliki dia dan lain sebagainya. Hal-hal baik yang mereka tonjolkan dariku untukmu. Bahkan ada juga temanmu yang memanggil sebutanku untukmu, my sweety. Ya karena banyak dari mereka yang membaca tulisan-tulisanku untukmu. Entah berapa kali kamu di “ceng” in mereka dan kau membalasnya dengan senyuman. Namun dari setiap ceritamu, aku lihat pancaran wajahmu begitu bahagia dan senyuman khas dirimu pun mengalir indah di bibirmu.
Jika dilihat dari sudut pandang teman-temanku, kata mereka aku juga beruntung memilikimu. Mereka bilang aku beruntung mendapat istri cantik, sholehah, baik dan sebagainya. Sulit mendapatkan istri seperti Lia, jaga selalu dia, kata teman-temanku itu.
Sayangku
Setiap teman kita mengatakan kita sama-sama beruntung dari sudut pandang yang berbeda. Bagaimanapun itu adalah pandangan mereka terhadapku maupun terhadapmu. Apakah kita sama-sama beruntung? Entahlah, namun aku tak memandang hanya keberuntungan saja. Lebih dari itu aku bangga saat ini aku bisa menjadi suamimu, aku bangga aku bisa mencintaimu, dan aku bangga kita menjalani kehidupan rumah tangga ini. Rasa bangga ku inilah yang bisa menjadi energi dasyat untuk menuliskan kisah kita, menuliskan kata-kata cinta, dan rasa bangga inilah yang membuat aku ingin berbagi kebahagiaan kepada sesama. Istriku, aku bangga memilikimu.

Suamimu

Rabu, 26 Oktober 2016

Panggilan Kakak Adik dari Penjual Nasi Uduk

Cuaca pagi ini sangat cerah, menambah semangat ku untuk pergi kerja bersamamu. Hari ini untuk kesekian kali kita tak ingin makan di rumah, bukan karena bosan, namun karena ada hal yang mungkin membuat kita terheran, membuat penasaran ataupun hanya ingin makan bersama di luar.
Cerita dari Rani teman kantormu membuat aku tersenyum dan mungkin senang juga. Walaupun tak setiap hari, kita terbiasa kalau pagi makan di warung nasi uduk pinggir jalan menuju kantormu. Kamu ceritakan kepadaku tentang percakapan antara Rani dan Ibu penjual nasi uduk itu. Kurang lebih seperti inilah percakapan Rani dan Ibu Penjual nasi uduk yang kau ceritakan kepadaku.
“Mbak, temannya mbak itu sudah menikah ya?” kata ibu penjual nasi uduk
“Iya bu, Juli atau Agustus begitu” jawab rani
“Aku kira mereka kakak adik mbak” sahut ibu penjual nasi uduk
“Pasti ibu dah mengira mana kakaknya dan mana adiknya ya bu” canda Rani sambil tertawa
Begitulah beb, kira-kira percakapan antara Rani dan si Ibu penjual nasi uduk. Akupun seketika tertawa mendengar ceritamu itu. Entah darimana melihatnya, kita dianggap seperti saudara yang sering mampir ke warung kecilnya.
Aku berfikir apa benar ya omongan orang-orang kalau jodoh itu mirip. Sepintas aku teringat kisah Nabi Adam dan Siti Hawa. Iya benar, Ibu Hawa memang diciptakan dari tulang rusuk Adam. Logika sederhanaku kembali berimajinasi, kalau begitu berarti benar juga ya, karena Ibu Hawa diciptakan dari bagian tubuh Adam, sehinga miriplah antara pria dan wanita yang berjodoh.
Itu cerita mereka, kitapun juga punya cerita. Kamu yang telah djodohkan Allah untukku, apakah kamu bagian dari tulang rusukku? Ahhh entahlah, aku tak bisa berandai-andai, namun satu hal yang kuyakini, Kamu adalah wanita terbaik yang diciptakan Allah hanya untukku, untuk melengkapi kekurangananku dan untuk menyempurnakan bagiaan-bagianku yang tak ada. Itu kamu my sweety, Lia Apriliani.
Kembali ke cerita si Ibu penjual nasi uduk pinggir jalan menuju kantormu. Pagi ini kita coba makan lagi disana. Seperti biasa menuku yang kau tahu, nasi uduk pakai telur bulat dan tahu ditambah sambal. Begitupun kamu yang tak pernah berubah, mie bihun, oseng tempe dan telur dadar. Kita makan dengan lahapnya sambil bercerita dan tak lupa tetap diabadikan dengan foto selfi berdua. Begitulah cerita kita, cerita yang mungkin hanya sederhana. Namun bagiku, kesederhanaan inilah yang akan membuat kita bertahan dalam suka maupun duka. Jika sebagai cikal bakal cinta ada Adam dan Hawa, dalam dongeng ada Romeo dan Juliet, begitu juga ada kisah cinta antara Rama dan Shinta, namun saat ini di dunia nyata ada cerita tentang kita, Didik dan Lia.

Jakarta, 26 Oktober 2016
Quote of the day

“Kisah cinta yang sederhana akan membawa hidup kita lebih bermakna, penuh senyuman dan keharmonisan menjalani kebersamaan dengan pasangan, jalani kisah cintamu dengan sederhana dan biarkan orang lain yang menilainya” (lidicinta, 2016)

Selasa, 18 Oktober 2016

Nostalgia Cinta

Kamis malam di sudut pojok McD adalah kenangan yang tak akan pernah hilang dari ingatan. Sepasang sahabat dipertemukan Tuhannya dalam nuansa berbeda. Jika biasanya mereka bercengkrama dalam balutan tertawa, hari itu terasa hening penuh makna. Keseriusan cinta dalam balutan sahabat menjadi tranding topic malam itu. Kata demi kata terucap jelas tak seperti biasanya, kalimat-kalimat cinta selalu terucap setiap detiknya, frasa-frasa yang dibumbui mimik wajah serius menghiasi pertemuan mereka. Dua sahabat yang lama tak bertemu, dipersatukan lagi untuk menjadi sepasang suami istri.  Itulah kita istriku, aku dan kamu bertemu kembali waktu itu, setelah 5 bulan tak pernah saling bertatap muka.

Kini kita sudah berumah tangga, hal yang kita impikan waktu itu, di sudut pojok atas McD. Perjalanan demi perjalanan pun kita lalui bersama dalam pembelajaran berumah tangga ini. Kisah-kisah cinta kita goreskan dalam setiap perjalanannya.

Ketika Senin sore di KPPN tempat biasa aku kunjungi, aku pulang agak terlambat dari biasanya. Sehingga kamu ingin pulang dahulu dan seperti biasa memasakkan menu buka puasa buat kita. Namun tetiba aku punya angan-angan ingin bernostalgia di McD.

“Beb dimana?” kataku lewat telepon
“Ini di kantor beb, mau pulang” jawabmu yang agak jutek waktu itu
“Ini aku udah selesai, mau pulang, ooo iya beb, jangan masak ya!” kataku padamu
“Loh kenapa beb?” jawabmu mulai terheran
“Kita makan di luar aja gimana, kan pyan besok mau DL, entar ke McD sambil bernostalgia hahaha” sambungku
“hahahaha, ok deh papa biant, jadi aku nunggu di kantor aja ya hehe” katamu yang mulai berubah intonasi, yang menurutku sudah nggak jutek lagi
“ok deh sayang, aku pulang ya, i love you” kataku di akhir telepon sebelum selesai
“i love you too papa biant” sambungmu mengakhiri percakapan kita lewat telepon

Saat itupun aku segera meluncur, menjalankan sepeda motorku menuju kantormu. Menjemput kamu sang bidadariku. Di tengah perjalanan, aku teringat, kamu yang juga suka tempe mendoan daerah sekitar Santa. Saat itupun aku langsung berhenti disana membeli tempe mendoan buat buka puasa kita. Akhirnya tempe mendoan itulah yang menjadi menu kita waktu buka puasa.

“Aku merasakan kayak waktu puasa ramadhan beb” katamu ketika di kontrakan waktu buka puasa
“Kok bisa beb?” tanyaku terhean
“Iya waktu itu biasanya papa biant beli mendoan lalu kita buka puasa di kantor bersama teman-teman”jawabmu sambil mengingat kembali bulan ramadhan tahun ini
“iya ya beb, aku sering beli mendoan disana hehe” kataku

Seketika itu kita pun menikmati mendoan berdua sambil menunggu waktu, sebelum kita berdua ke McD. Waktu isya pun tiba, dan setelah sholat kita segera bergegas kesana. Disana kita makan ayam goreng berdua, menempati meja pojok atas, sambil bercerita, tentang di McD waktu itu, tentang kantormu, kantorku, dan tak lupa juga tentang kita.

Nostalgia ini bagaikan kita mencoba mengulang kembali masa-masa dimana kita mulai dekat lagi. Mulai menaburkan rasa cinta yang hanya kita dan Allah saja yang tahu bagaimana menggenapkannya. Semoga lewat puing-puing kenangan ini, kita semakin menambah rasa cinta, rasa cinta antara dua sahabat yang sedang belajar berumah tangga. Cinta antara aku dan kamu dalam balutan Allah Azza Wajalla.

Jakarta, 18 Oktober 2016

Quote of The Day:
“Tulislah kenangan-kenanganmu yang penuh cinta, jika tak mampu menulis maka ucapkanlah, dan jika berucap tak mampu maka cukup ingatlah, karena kenangan penuh cinta sebagai bahan retrospeksi diri dalam menggapai masa depan yang juga penuh cinta”
(lidicinta, 2016)

Senin, 03 Oktober 2016

Menjadi Suami Hari Ke-70

Ini adalah kisah kesekian kali yang ingin kutulis dalam diary kecilku. Teringat dengan salah satu program televisi masa kini “Tetangga Masa Gitu”. Setiap awal dalam episodenya selalu diberi judul “Pernikahan hari ke-...”. Terinspirasi dari sana aku ingin dalam tulisan ini kutulis judul seperti itu. “Menjadi Suami Hari ke-70” adalah judul tulisanku kali ini.
Setiap kisah sederhana dengan balutan cinta akan selalu tercetak jelas dalam kata-kata. Kali ini terkait bagaimana aku ingin menggantikan peranmu istriku, meskipun hanya sedikit, tapi tak apalah untuk dicoba.
Minggu siang yang kita nikmati dalam suasana santai, kita pun berbincang-bincang.
“Besok kan puasa, sahurnya jangan pakai gudeg ya hehe” kataku sambil meringis mengingatkanmu bahwa kita akan sahur untuk puasa senin-kamis.
“kenapa beb?” katamu
“sahur kan nggak terlalu enak makan, jadi jangan yang manis-manis buat lauk” sahutku padamu yang memang tak mau makan gudeg di kulkas kita
“terus mau makan pakai apa beb? Di kulkas masih ada kangkung, wortel, tempe” kamu yang bertanya sekaligus memberitahuku akan isi kulkas
“ehhmmm....gimana kalau aku yang masak, ntar tak masakin masakan pondok hehehe” jawabku dengan yakinnya ingin memasakkanmu,
“kangkung dioseng sama tempe,  kangkungnya nggak dipetiki, tapi diiris-iris hehe, gimana?” timpalku lagi
“ok kalau begitu” katamu sambil tersenyum
“jam berapa kita bangun” kataku
“jam 2 ya, gimana?” katamu
“ok deh, di alarm jam 2” jawabku dengan yakin
Entah apa yang aku pikirkan saat itu, aku hanya tak mau makan gudeg saat sahur, jadi aku pun punya solusi dengan memasakkan sayur buatmu. Malam telah tiba, kita pun sejenak melepas lelah dalam samudra mimpi sambil berharap akan bangun jam 2 sesuai kesepakatan kita.
Alarm berbunyi dengan nyaringnya, namun kantuk ku masih melanda. Dasar naluri suami yang selalu dilayani setiap ada maunya. Aku tak mau bangun, alarm pun dimatikan, sampai jarum jam panjang menunjuk angka 8. Dan kamu pun seperti biasa yang bangun duluan untuk membangunkanku. Istriku, naluri dan perasaanmu sebagai istri sungguh membuat aku kagum. Aku yang berniat akan bangun duluan untuk memasakkanmu, malah kamu yang membangunkanku. Mungkin memang benar, aku tak bisa menggantikan peranmu, sebagai seorang istri yang benar-benar tulus melayani setiap kebutuhanku.
Ketika kubangun, aku teringat akan janjiku padamu segera kupersiapkan peralatan dan bahan untuk memasak. Kangkung dan tempe bahan utama segera kuambil dari kulkas. Panci listrik, uleg, dan wadah tempat sayur pun tak lupa kuambil dari tempatnya. Memasak pun siap kulakukan untuk sahur kita.
Entah berapa kali aku bolak balik ke dapur dan ke kamar, untuk mengambil semua perlengkapan. Di sela aku memasak, kamu pun juga tetap mengerjakan sesuatu. Mulai dari menyetrika pakaian yang akan kupakai sampai merendam pakaian yang kan kamu cuci. Ahh...emang dasarnya kamu tak punya capek, aku yang berusaha menggantikan peranmu, malah kamu juga berperan dalam pekerjaan lain. Setelah semua siap, pagi itupun kita sahur dengan oseng kangkung tempe ditambah nugget goreng dan tahu telur. Sahur selesai, dan kitapun siap untuk jamaah subuh.
“Nanti nggak usah dicuci dulu ya pakainnya” kataku setelah selesai sholat subuh
“kenapa beb?” katamu terheran
“nggak papa, direndam dulu saja, dicuci sore saja beb, sekarang istirahat aja dulu” jawabku, dan setelah itu, senyum lebar nan manis pun keluar dari bibirmu.
“Terima kasih papa biant” katamu sesaat sebelum kita terlelap dalam tidur di pagi hari.
“i love you sayang” kataku
“i love you too papa biant” jawabmu di akhir percakapan kita
Istriku, terima kasih telah menjadikan keluarga kecil ini penuh barokah dan kebahagiaan, senyuman terindahmu selalu hiasi setiap hari dalam perjalanan bahtera rumah tangga kita. Kau tak kan terganti, baik dalam raga maupun jiwamu sebagai seorang istri. Bahkan suamimu pun tak mungkin bisa menggantikan peran sedetail yang kamu miliki. Istriku, you are my perfect person for me, therefore i will strive to be the best husband for you.

Jakarta, 2 Muharrram 1438 H 

Selasa, 27 September 2016

Memanjakanmu sebagai Ladang Ibadahku

Pagi ini sama seperti pagi hari biasanya. Pagi yang cerah dengan mentarinya yang tampak bersinar. Dipenuhi lalu lalang kendaraan, dari anak sekolah sampai pekerja harian. Namun, di pagi yang cerah ini, kita harus berpisah untuk sementara. Kamu yang harus pergi ke jogja sedangkan aku harus stay di jakarta.
Seperti biasa beb, setiap kamu akan kegiatan, kamu menggebu-gebu. Bangun malam menyetrika pakaianmu dan pakaian yang akan kugunakan sampai kamu pulang. Tak lupa kamu berusaha memasak demi kita bisa makan di pagi hari. Dan ketika ku bangun pun kamu sudah selesai dengan setrikaanmu.
"Bangun jam berapa beb?" Kataku setelah aku bangun tidur
"Jam 3 beb hehe" jawabmu
Lalu kitapun akhirnya sholat jamaah dilanjut mengaji seperti hari-hari biasanya.
Entah darimana tenagamu, kamu tak tampak mengantuk ataupun lelah. Aku pun kamu buat keheranan akan sifatmu. Selesai sholat kamu langsung mengambil peralatan masak. Ketika itulah saat dimana aku ingin kamu istirahat, menikmati pagi ini dengan kemesraan. Menikmati pagi ini dengan menatap wajah tercantikmu, istriku.
"Beb, nggak usah masak ya?" Kataku tiba-tiba saat kamu akan keluar kamar
"Kenapa beb?" Jawabmu
"Mau masak apa?" Selaku
"Itu ada di kulkas beb" jawabmu
"Pagi ini nggak usah masak ya? Kita beli di luar aja, di nasi uduk hehe" kataku sambil mengingatkanmu saat pagi hari dulu aku ke kosmu dan kita makan di nasi uduk dekat kosmu
Kau tampak tersenyum gembira, entah apa yang kau rasakan, namun yang aku tahu kamu merasakan kebahagiaan karena permintaanku.
Akhirnya di pagi hari itu kita bisa berdua. Menikmati setiap detik dalam setiap tatapan mata. Kau yang bersandar di dadaku sambil bermanja ria penuh cinta. Kita tertawa bersama, cerita-cerita, dalam pelukan mesra yang tak mau sama-sama melepasnya.
Namun aku tahu, kamu harus berangkat setengah tujuh bersama teman-tenanmu.
"Beb udah jam 6 ini, jadi berangkat nggak?" Kataku mengingatkanmu
"Entar dulu beb, aku masih ingin begini" sahutmu sambil memelukku
"Ya udah, entar dulu" kataku
"Terima kasih papa biant" tiba-tiba kamu mengucapkan itu padaku
"Sama-sama sayang, terima kasih buat apa? Hehe" ucapku padamu
"Ya karena kita bisa berdua begini hehehehe" sahutmu  dengan penuh manja dan kusambut dengan kecup keningmu
Waktu di jam dinding menunjukkan pukul 6.15, kini saatnya aku mengantarmu ke tempat temaan-temanmu. Dan sebelum itu, dalam perjalanan menuju tempat janjian, kita makan di nasi uduk kenangan. Warung nasi uduk sederhana di pinggir jalan yang hanya buka di pagi hari.
Kita pun makan dengan lahapnya, nasi uduk lauk telur, tahu, mie, dan oseng tempe menjadi menu andalan kita. Ditambah minuman teh tawar hangat, membuat pagi ini menjadi istimewa karena kehangatan cinta kita. Selesainya makan, kita melanjutkan perjalanan.
"Entar belok kanan beb" katamu di motor
"Iya sayang, ok deh" sahutku
"Namun yang depan ya, jangan yg sini, hahahaha" seketika kita tertawa, teringat saat kita pernah salah belok akhirnya tak sampai ke tempar tujuan
Sesampainya di tempat tujuan, teman-temanmu pun sudah ada, kini saatnya kita harus berpisah sementara. Dan seperti biasa setiap akan berpisah, salam terindah kita, kuusap wajahmu menggunakan tanganku dengan kelembutan dan penuh cinta, begitupun kamu sebaliknya. Tangan lembutmu terusap di wajahku yang membuat hati ini tentram dan terasa damai di dalamnya. Terima kasih sayangku, kamu hadir memenuhi hari-hariku dengan penuh kasih sayang dan cinta. Kamu yang tak pernah lelah untuk berbakti pada suamimu. Dan terima kasih karena kamu mengijinkanku untuk memanjakanmu di pagi ini. Karena bagiku, memanjakanmu adalah sebagai ladang ibadah buatku. Love you my sweety, hati-hati di jogja. Salam hangat penuh cinta dari suamimu di Jakarta.

Ditulis di bangku nomer 2 KPPN Jakarta III
Selasa, 27 September 2016

Selasa, 20 September 2016

Warteg Cinta


Sejak pertama mengenalmu kita tak sering berjumpa, bertegur sapa pun hanya via bbm saja, namun cerita tentangmu selalu ada. Berbagai macam alasan kucari untuk bertemu denganmu. Mulai mengantar susu hingga kelebihan buah dalam kulkasku.
Namun hari itu terasa istimewa, hari dimana kita punya waktu berdua. Bisa bersenda gurau, berbagi cerita dan tertawa bersama. “Aku mau kesana teh, pyan dimana?” kataku lewat bbm. “Aku masih di kantor mas, kapan kesini?” jawabmu. Akupun menjawab “insyaAllah habis magrib, nanti ke kost atau aku ke kantor pyan?”, “ke kantor saja ya mas” katamu, “ok deh aku jemput yak” jawaban penutupku yang membuat aku berdebar-debar.
Tibalah saatnya aku pulang kantor, dan setelah sholat magrib, aku pun bergegas menuju kantormu. Saat itu, aku tak merasa apa-apa, hanya berdebar-debar saja. Setibanya di kantormu pun aku berusaha rileks, namun apa daya, jantung ini tetap berdebar-debar. “Mau tak bonceng?” kataku, dan kamu pun mengiyakan sambil menganggukkan kepala. “kita makan dulu gimana?” ajakku padamu . “Makan dimana?” katamu, “ya aku nggak tahu, kan pyan yang kost disini hehehe” jawabku sambil nyengir. “Di warung deket kost aja ya?” katamu memberi solusi.
Malam itu pun kita makan berdua, namun tak ada perasaan apa-apa, hanya sahabat, yaaa...hanya sahabat. “kalau begini kita kayak orang pacaran ya?” katamu membuka obrolan. “iya nih, romantis banget ya, makan berdua di warteg hahaha” kita tertawa berdua. Entah apa yang ada dalam benakmu saat itu, aku berusaha menyembunyikan perasaanku, dan aku yakin seyakin-yakinnya bahwa kau tak akan mengerti itu. Karena kutahu bahwa akan sangat sulit berbicara tentang cinta denganmu. Bagiku dekat denganmu, makan berdua denganmu sebagai sahabatku adalah hal terindah dalam hidupku. Makan pun selesai dan kau pun kuantar ke kost.
Kini waktu itu sudah berlalu, namun warteg disitu tetap berdiri tegak. Tetap melayani pelanggan-pelanggannya, dari anak kecil sampai orang tua, dari pekerja sampai ibu rumah tangga. Warteg tempat kita pertama makan berdua, warteg kenangan terindah dalam kehidupan kita. “WARTEG CINTA”.
Sudah sering kita kesana, baik berdua maupun dengan teman kita. Namun kita tak pernah merasa bosan untuk makan disana. Hari minggu lalu kita coba bernostalgia. Mencoba mengulang memori indah saat pertama kita duduk berdua, makan dan bercerita. “Hari ini nggak usah masak ya, kita makan di luar sebelum nonton bioskop” kataku sambil melepas lelah karena perjalanan dari Ngada. Senyummu pun mengembang saat aku bilang begitu. “Makan dimana?” katamu sambil tersenyum. “Ke warteg cinta gimana? Hehe” jawabku, dan kamupun mengiyakan. Kita berangkat menuju warteg cinta, warteg kenangan buat kita.
“Mas mau makan apa?” tanyamu padaku, “eemmm, ayam goreng, kikil, sama sayur kecambah tuh, biar kuat hahaha” kataku sambil tertawa dan diikuti tertawamu, seolah mengerti apa yang aku maksudkan. Lalu kamupun memesan capcay ditambah tempe goreng. “Kok cuma itu?” kataku terheran karena yang kau pesan, “nggak papa, aku ini saja” jawabmu. Kita pun makan, sambil mencoba mengingat-ingat waktu dulu, kenapa kita makan berdua disini. Sambil bercerita masa-masa saat kita dekat, bercerita modus-modusku untuk menemuimu dan sebagainya.
My sweety, dalam setiap ketidakpekaanmu dulu, tersembunyi rasa penasaran begitu besar tentang pearasaanmu.  Aku bangga dan bahagia, mengenalmu dari ketidakpekaan. Mengenalmu sebagai sahabat yang mengetahui semua tentangku. Jika waktu itu kamu peka dan tahu perasaanku, mungkin kita sekarang tidak akan seperti ini, menjadi sepasang cinta yang abadi sebagai suami istri. Terima kasih atas kebaikanmu menerima pinanganku, terima kasih karena kau selalu berusaha menjadi istri terbaik buat aku. Warteg cinta menjadi saksi bisu kisah cinta kita berdua. Kisah sepasang kekasih yang berawal dari persahabatan dan dibumbui dengan cinta. Semoga kamu tak lelah untuk selalu menjadi pendamping suamimu yang penuh dengan kegejean ini. Dan kita akan bersama menciptakan kenangan-kenangan terindah dalam hidup kita di dunia sampai nanti di surga. Amiin


Jakarta, 20 September 2016

Jumat, 16 September 2016

Belajar Toleransi, Qanaah dan Bersyukur Dari Masyarakat Kabupaten Ngada

Perjalanan kali ini adalah yang kesekian kali aku banyak mendapatkan pelajaran berharga dalam hidup. Dimulai saat meninggalkan kontrakan jam 11 malam, dan harus meninggalkan istri tercinta. Melaksanakan tugas negara untuk memantau seleksi Guru Garis Depan (GGD) di Kabupaten Ngada Nusa Tenggara Timur.
Sambutan yang hangat dari sekolah tempat pelaksanaan dan juga masyarakat membuat aku merasa seperti di rumah sendiri. Dari mereka juga aku banyak belajar, dari mereka juga aku menemukan indahnya perdamaian. Ketika tes untuk seleksi GGD selesai, akupun banyak berbincang-bincang dengan Kepala Sekolah dan juga pegawai LPMP yang datang. Cerita-cerita dari kepala SMK Sanjaya Bajawa menambah keingintahuanku mengenai kehidupan masyarakat Ngada.
Cerita pertama diawali dari keadaan geografis Kabupaten Ngada. Dimana setiap daerah/kecamatan disini memiliki perbedaan dalam hal hasil pangan. Ada yang pertanian padi jagung ketela, ada daerah yang menghasilkan kopi, ada juga daerah yang masyarakatnya menjadi nelayan. Tanah nan subur disini membuat semua bisa tumbuh, bahkan kata Pak Rema selaku kepala sekolah, hanya orang malas saja disini yang tak bisa memanfaatkan kesuburan tanah.
Beliau juga bercerita tentang kearifan masyarakat Ngada yang sangat percaya hukum alam. Mereka percaya bahwa jika kau mengambil hak/milik orang lain maka akan menerima akibat yang lebih buruk. Beliau bilang, jika kita menaruh singkong atau apapun di pinggir jalan, dalam berminggu-minggu tak akan hilang. Mungkin hal sepele, namun bagiku ini adalah luar biasa. Bagaimana mereka membangun sebuah kepercayaan yang turun-temurun, bagaimana mereka menerapkan pendidikan karakter yang mungkin mulai memudar di kalangan masayarakat pada umumnya. Ini adalah sebuah pembelajaran terutama aku yang bekerja di pemerintahan, belajar qanaah atau menerima apa yang diberikan Allah. Tidak mengambil hak orang lain yang mungkin teman-teman tahu semua yaitu korupsi. Qanaah adalah kunci utama dalam mengemban amanah dan tanggung jawab.
Disisi lain, ketika aku coba berkeliling di Bajawa. Kutemukan hal yang menakjubkan bagiku. Sebuah masjid bersanding dengan sebuah gereja. Masyarakat yang hidup rukun, berdampingan dan penuh toleransi. Tak memandang apa agamamu, apa sukumu, namun kita adalah sama, satu Indonesia. Begitupun saat aku akan makan bersama Kepala Sekolah dan pegawai LPMP. Dalam hal makan pun mereka memilih, iya memilih, memilih tempat makan yang halal. Jika mereka mau, mereka bisa mengajak ke restoran, disana daging babi sudah biasa dimakan. Namun yang dikatakan adalah kita cari tempat makan yang halal, agar aku bisa makan. Sungguh indah sekali persaudaraan ini, saling menghargai dan penuh toleransi.
Sebagai penutup tulisan ini, aku ingin memberikan sebuah gambaran. Bagaimana jauhnya setiap daerah disini. Untuk berjalan ke daerah lain harus selalu melawati hutan. Jika di Jakarta untuk mendapatkan sesuatu tinggal telpon atau beli di supermarket terdekat. Namun disini, mereka tak ada supermarket, travel pun menjadi alternatif untuk menempuh perjalanan jauh ke setiap daerah. Namun mereka selalu senang dan bangga menjadi masyarakat Ngada. Bangga membangun daerahnya dan bangga menjadi Warga Negara Indonesia. Disinilah letak bersyukurku, aku yang ditempatkan di kota, apapun ada disana. Tak perlu jauh untuk medapatkan apa yang diinginkan dan semua sudah ada. Mereka bisa bahagia dengan apa yang ada, akupun ingin lebih bersyukur dan bahagia dengan apa yang aku punya. Kebahagaiaanku adalah karena rasa syukurku.
Terima kasih atas perjalanan ini, perjalanan yang insyaAllah semakin menambah imanku. Perjalanan yang membuat aku ingin selalu mencintai apa yang aku punya. Perjalanan yang mebuat aku untuk belajar, belajar bertoleransi, qanaah dan bersyukur atas nikmat Allah Azza Wajalla.

Ditulis dalam perenungan di sebuah kamar kecil di Kabupaten Ngada

Jumat, 16 September 2016

Topi AFM 2

Upluk coklat adalah upluk yang pertama kali kami beli saat car free day hari Minggu di Telaga Golf. Saat itu usia Dede Fayy masih 4 bulan. ...